Penelusuran google

Minggu, 23 Desember 2007

Killing Me Softly

Ternyata bukan hanya ibu-ibu yang terlena dengan sinetron-sinetron karya anak bangsa (atau buatan orang india?) tetapi juga banyak anak kecil yang terbuai dengan tayangan-tayangan heroik sarat kekerasan. Sebut saja Power Rangers dan sentai tiruan lainnya, Gundam yang penuh peperangan, dan kamen rider sekeluarga yang semuanya mengusung tema "solusi terbaik untuk memecahkan masalah adalah pertarungan".

Seperti judul lagunya Westlife, More Than Worse, ada yang lebih buruk yaitu bumbu-bumbu iklan yang menyesatkan. Dengan terang-benderang produsen makanan mengarahkan promosi produk makanan, mainan, dan barang yang tidak dibutuhkan lainnya kepada anak-anak alih-alih kepada para orang tua yang lebih mengetahui apa yang baik dan buruk bagi anak-anak.

Mari kita dukung Komisi Penyiaran Indonesia.

Rabu, 05 Desember 2007

Postingan Ideal

"Dia sangat idealis, ya."

"Mari kita jaga bersama idealisme kita."

"Diet bertujuan untuk menjaga berat badan ideal."

"Idealnya, Bapak dapat mengerjakan tugas tersebut dalam waktu dua hari."

Ideal (adj. answering to one's highets conception; perfect), ternyata tidak seideal yang dibayangkan. Kenapa? Ya karena ideal itu sendiri mengandung unsur subjektif yang sangat tidak ideal. Dalam definisi ideal yang disebutkan sebelumnya pun terdapat kata "one's" yang artinya sangat dekat dengan kesubjektifan.

"Menurut bapak, bagaimana tata kota yang ideal?"

Lebih kontradiktif lagi, kata "ideal" dan "menurut Bapak" digunakan dalam satu kalimat.

Jadi, bagaimana definisi ideal yang ideal menurut Anda?

Back Too Nature

Setelah sekian lama menghirup polusi kota Jakarta, akhirnya saya berkesempatan untuk sejenak istirahat di habitat yang tenang dan asri. Yap, setelah setahunan terkatung-katung di kantor pusat tanpa dalil yang jelas, beberapa hari yang lalu surat ketetapan yang memberikan kekuatan hukum bagi saya dan teman-teman seperjuangan untuk menempati pos masing-masing telah diterima di tangan.

Dengan semangat membara saya membakar sate berangkat meninggalkan Pulau Jawa tercinta menuju tanah Andalas yang penuh sawit. Berikut sedikit yang dapat saya laporkan dengan ngawur.

<><><><><><><><><><><><><><><><><><><><><><><><><>
<><><><><><><><><><><><><><><><><><><><><><><><><>

Ladies and Gentlemen, Please Welcome, Perwakilan Jambi

<><><><><><><><><><><><><><><><><><><><><><><><><>
<><><><><><><><><><><><><><><><><><><><><><><><><>

Ayo Menghabiskan (Sebagian) Uang Detasering

Perjalanan di pesawat begitu singkat, tidak sebanding dengan penantian yang lama dan tidak nyaman di bandara. Yap, jarak Soekarno-Hatta dengan Sultan Thaha hanyalah sekitar satu jam, kurang sebanding untuk datang lebih awal guna memenuhi kewajiban check in yang harus "pagi-pagi".

Menapakkan kaki kali pertama di Jambi, para penumpang pesawat disambut udara lembab-panas khas tropis yang tidak jauh berbeda dengan kondisi cuaca Jakarta dan sekitarnya. Namun jika diteliti lebih lanjut, kadar polusi dan aura kebisingan sangatlah jauh berbeda. Yeah, feel free to breath.

Perjalanan menuju tempat kerja baru memberi kesan yang mendalam, bukan karena keindahan kotanya tetapi karena memang ini adalah first time experience(paling ntar juga bosen). Suasana kota cukup rame dan hidup, fasilitas standar perkotaan (kecuali gramedia) sudah cukup tersedia, perempatan dan persimpangan memberi warna tata kota berbeda dibandingkan Jayapura yang dulu pernah kukunjungi, not bad-lah sebagai ibu kota provinsi.

Suasana perkotaan yang menenangkan hati tidaklah selama jangka waktu penempatan yang hendak dijalani. Setengah jam perjalanan dari bandara rombongan sudah sampai ke "Bekasi"-nya Jambi, welcome to sub-urban.

"Kata ganti "Bekasi" kuranglah tepat," kata penyunting sambil menjejalkan kata "daerah pengungsian" ke tengah paragraf.

Jalan Lingkar Barat I No. 78, itulah alamat yang hendak dituju, sebuah frase yang sangat dekat dengan "pinggiran kota", "sepi", "ndeso", .... Datz right my brother, entah bagaimana Tuhan mentakdirkan orang-orang BPK (Di Jambi) jauh dari gemerlap mall-mall dan tuentiwan. (Penyunting baru ingat, seharusnya frase "dan tuentiwan" ditambahkan setelah kata Gramedia pada paragraf kedua). Tidak cukup siksaan yang dijatuhkan, "tidak ada angkot yang lewat" diselipkan dalam list.

"Bagaimana kalian hidup?" tanya pembaca yang kurang ajar sabar.

Begitulah, somehow kami dapat bertahan sampai saat blog ini dimuat.

===========

"Jadi kapan pak, postingan ini bakal di muat di stanbpk.wordpress.com yang termasyhur itu?" Si Kancil memohon dengan wajah memelas kepada Si Buaya sebagai Kuasa Pengguna URL.

"Segera," jawab sang eselon sambil memainkan jenggotnya.

Akhirnya si kancil yang sudah tidak sabar ng-on-line-kan masterpisnya memilih menggunakan blog sendiri yang memiliki tampilan bersahaja. Tidak ada akar, rafiah pun jadi, yang penting kemuat, ada/ga ada yang baca yang penting hati senang.

[Tentu saja adegan ini fiktif belaka, untuk mengilustrasikan salah satu obrolan di suatu instansi pemerintah]

===========

Bertahan Hidup

Dengan semangat "senasib-sepenanggungan", beberapa pegawai yang belum memiliki kebebasan finansial (?) terpaksa menjadi tanggungan negara dengan menempati mes-mes kantor yang jumlahnya terbatas. Akses (cuma dan hanya cuma) ke kantor sangatlah mudah karena memang mes tersebut terletak satu komplek dengan eksbangunan milik DLLAJR setempat yang kini disulap jadi markas besar Pemeriksaan Keuangan Negara wilayah Jambi. Lumayan lah, bisa menjauhkan papan (untuk sementara) dari sandang dan pangan, saudara dekatnya (gratis bo).

Seleksi alam dilakukan untuk memilih siapa yang pantas untuk menjabat sebagai penghuni sementara dan hasilnya, kami, sebagai kelompok pasal 34 ("Fakir miskol dan pegawai terlempar dipelihara oleh negara rakyat"), dengan leluasa memenangkan tender. Manusia yang lebih bermartabatduit (Sang Penyunting mulai bersemangat untuk main coret sana coret sini) tentu lebih memilih hijrah ke kontrakan yang lebih "kota".

Ibarat bayi baru lahir, kantor kami ini juga belum memiliki SDM (dengan kuantitas) yang cukup. Terpaksa, auditor-auditorpemeriksa-pemeriksa yang powerfull harus mengerjakan sesuatu yang fully clerical di UPT jangkung (supporting unit). Beruntung Yang Maha Kuasa masih menempatkan kami di Subbagian Keuangan yang masih serumpun dengan Akuntansi (latar belakang pendidikan kami) dan Pemeriksaan. Istirja' juga, karena keuangan itu penuh dengan seni-seni birokratis yang menggiurkan.

Ayo Belajar

Bernostalgia, membayangkan saat-saat indah di STAN dulu, kuliah Keuangan Negara, Hukum Administrasi Keuangan Negara, dan Pengantar Perbendaharaan, sangatlah memberi kedamaian (sampai tidur) di kelas. Sayup-sayup nama Espe-em, yang katanya merupakan tokoh terkenal di dunia perbendaharaan negara, disebut-sebut oleh sang dosen. Sekarang nama Espe-em bukanlah buaian semata, itz real babeh (apa maksudny)! Mau-tak-mau harus belajar dengan SPM (yang tadinya disebut Espe-em) dan kroni-kroninya seperti SPP,SP2D, ringkasan kontrak, SPP, dan SSBP. Hal paling mendasar yang harus dikuasai sebagai staf keuangan adalah mengetahui lokasi KPPN dan bank. Kedua, membaca DIPA, SE DJPb, dan KMK adalah penting (beda dengan kuliah: lebih penting menguasai tool copy dan paste untuk bisa lolos kuliah). Ketiga, dalam pengajuan SPM ke KPPN, jangan lupa membawa softcopy SPM dalam flashdisk (buang jauh-jauh 3 1/2" floppy yang sudah jadul),tidak perlu membawa laptop keuangan karena akan mencoreng nama baik angkatan.

============

Aldre : "Zhar, kau berhasil membuat orang-orang panik, mereka kira laptopnya ilang."

============

Bu Meida (Kasubbag Keuangan) : "Kalo ke KPPN, tidak perlu bawa laptopnya, cukup pake flashdisk aja."

Azhar (mencari alasan) : "Saya ragu-ragu softcopynya, Bu."

============

Sarana dan Prasarana

"Salah satu unsur dalam Reformasi Birokrasi adalah peningkatan sarana dan prasarana," kata salah seorang pembicara dalam sosialisasi reformasi birokrasi dan kode etik di sebuah kantor BPK.

"Kapan renumerasinya, Pak," gerutu seorang peserta sosialisasi dalam hati. (Penyunting sudah mulai bosen membaca, kata remunerasi yang salah ketik terlewatkan).

Gedung : sewa dari DLLAJR Kota Jambi. (Beliin dong,Pung)

Internet : via Fleksi,harus jadi Kalan atau staf Kalan dulu biar bisa termanjakan dengan akses internet yang lambat. Staf lain harus hanya untuk keperluan kantor dan gantian kalo ada yang mau pake telepon. (Alhamdulilah, aku hidup di zaman GPRS sudah lahir)

Listrik : memakai tenaga gelombang laut kali yah, sangat bergelombang, stabiliser Subbag Keuangan aja sampai meledak. Itulah kenapa penyelundupan laptop dari ruangan keuangan sangat dilarang.

Air : menyejukkan, lancar bo.

Beli makan : setiap hari dipilih Duta Makan Siang dan Duta Makan Malam sebagai utusan rakyat.

Lapangan bola : luas bo, bisa sampai ke bukit-bukit sebelah.

Telepon : Merek Fleksi sudah di sebut dua kali ini,gantian sama yang mau kirim email. (email resmi kantor: bpk-jambi@plasa.com dan perwakilan.jambi@yahoo.com >>> Cipta aja punya cipta_xxxxxx@bpk.go.id)

Overall

Perwakilan BPK Ri Di Jambi, cocok untuk individu yang menyukai ketenangan dan kedamaian.

Cocok untuk yang suka menabung karena jauh dari mesin-mesin penyedot uang, tapi begitu berangkat ke bank (yang terletak di tengah kota), tergiur untuk mampir di Jambi Prima Mall, ga jadi ke bank dong.

Sesuai untuk yang suka joging, 2,5 km dari jalur angkot terdekat bo.

Tidak cocok untuk maniak internet, GPRS sebagai harapan hidup terakhir juga suka ngadat.

Cocok untuk cowok jomblo, banyak pegawai cewek (tapi ga tau status kejombloannya).

Tidak cocok untuk yang suka make up menor, AC-nya tidak sedingin gedung utama, bedaknya bisa luntur.

.... (Isi sendiri setelah survei ke sini).


<><><><><><><><><><><><><><><><><><><><><><><><><>
<><><><><><><><><><><><><><><><><><><><><><><><><>
<><><><><><><><><><><><><><><><><><><><><><><><><>

Penulis meminta maaf karena banyaknya roaming yang terjadi, untuk pencerahan, silahkan baca penjelasan berikut:

Kalan : Kepala Perwakilan, si Bos.

Cipta : salah satu pegawai BPK, temen seangkatan.

UPT Jangkung :Unit Pelaksana Tugas Penunjang dan Pendukung, dapurnya kantor lah.

SPM : Surat Perintah Membayar, digunakan untuk "memerintahkan" Kantor Pelayanan Perbendaharaan Negara (KPPN) sebagai kasirnya negara untuk memerintahkan bank persepsi menggunakan Surat Perintah Pencairan Dana untuk mentransfer sejumlah uang dari rekening punya negara ke rekening instansi untuk membayar pengeluaran operasional instansi pembuat SPM tersebut (coba jelaskan subjek, predikat, dan objeknya).

Contoh, kalo mau bikin jalan, Pemerintah Daerah (Pemda) melelangkan proyek tersebut ke kontraktor-kontraktor. KOntraktor yang memenuhi syarat akan memenangkan tender dan dapat mengikat kontrak dengan Pemda untuk menjalankan proyek yang diinginkan Pemda. Setelah jalan jadi, kontraktor nagih uang yang telah dikeluarkan kepada Pemda. Untuk memenuhi tagihan dari kontraktor, Pemda menerbitkan SPM, KPPN menerbitkan SP2D, dan alhasil uang negara ditransfer ke rekening kontraktor sejumlah kontrak dikurangi pajak.

Mengerti kan? Kenapa kuliah itu begitu membosankan. Kalo sudah bangun, lanjutin bacanya ya.

Kemudian datanglah oknum BPK di akhir tahun. Dengan payung sebuah surat tugas, mereka dapat berkuasa mengobok-obok pelaksanaan proyek tersebut. Segala kecurangan ditelajangi dan dilaporkan ke negara. Hasil pekerjaan tidak sesuai spesifikasi dalam kontrak, telat mengerjakan, mark up harga, proyek fiktif, ... babat habis, kembalikan uang negara rakyat ke rekening
negara!

Begitulah kondisi idealnya.

DIPA : Daftar Isian Pelaksanaan Anggaran, berisi kegiatan yang direncanakan akan dilaksanakan selama setahun ke depan termasuk jumlah maksimal dana yang dapat digunakan. Dibuat pada akhir tahun anggaran sebelumnya dengan prosedur yang rumit dan membosankan untuk dijelaskan dipasukan dengan mekanisme tawar-menawar antara pelayan rakyat (instansi pemerintah) dengan wakil rakyat (DPR). Kalo bisa nawar,bisa dapet uang gede.

SE DJPb : Surat Edaran Direktorat Jenderal Perbendaharaan, berisi penjelasan (sangat) teknis dari produk hukum yang levelnya lebih tinggi, biasanya KMK.

KMK : Keputusan Menteri Keuangan, produk hukum yang ditandatangani oleh BU Sri Mulyani

Males ngejelasinnya, coba cari tahu mengenai mekanisme pengeluaran anggaran di www.perbendaharaan.go.id saja. Sekali-kali liat situsnya pemerintah yah. Atau bisa juga nanya-nanya ke pegawai negeri terdekat yang berkecimpung di keuangan.

Jumat, 16 November 2007

Azhar Award

*Komen duluan: "Azhar" dan "award" memang layak disandingkan yah.

Sebagai orang yang visual, ketertarikanku lebih ke sesuatu yang "dapat dilihat", misalnya mending baca komik ketimbang novel yang terlalu banyak ketikan, langsung membuka halaman karikatur ketika ada koran nganggur kalopun baca screening dulu judul-judulnya, nyari ilustrasi dulu sebelum membaca penjelasan buku manual yang berbelit-belit, dan tentu saja lebih suka menonton film daripada mendengar radio.

Nah, ngomong-ngomong soal nonton film, agar dapat meresapi setiap adegan film yang disuguhkan, tentunya suasana harus mendukung. Gambar jernih, suara terdengar jelas, teks terjemahan lengkap (mengingat keterbatasan nilai TOEFL), dan tidak disela dengan pembicaraan orang lain yang tidak berkaitan adalah beberapa hal yang harus dipenuhi.

Nyatanya tidak, sebagai seorang mahasiswa aliran akuntansi, diriku sudah akrab dengan istilah cost and benefit. Yap, artinya kurang lebih apa yang didapat harus sesuai dengan pengorbanan yang dikeluarkan. Dalam hal tonton-menonton, ada tiga alternatif yaitu: nonton di bioskop, beli DVD asli dengan player bermutu dan TV HD, serta membeli bajakan dengan player murahan dan TV rebutan dengan penghuni kos lainnya. Berdasarkan analisa sederhana di bawah ini, pilihan terakhir tersebutlah yang paling sesuai dengan prinsip "biaya ditandingkan dengan keuntungan" tersebut.

Alt. -- Biaya -- Kepuasan
I -- xxxxxxx -- xxxxxxxxxx
II -- xxxxxxxxxx -- xxxxxxxx
III -- xx -- xxxx

Alt. -- Rasio Biaya : Kepuasan
I -- 7/10
II -- 10/8 (termahal)
III -- 1/2 (termurah)

Setelah mengalami manis pahitnya asam garam dunia perfilman, tentunya (ya, perulangan diksi) ada judul-judul film yang memberikan kesan tertentu dihati. Setelah melalui proses penjurian yang ketat, akhirnya muncullah judul-judul film yang mempunyai keunggulan tertentu. Dalam hal penghargaan, bolehlah aku buat versi sendiri, kurang-lebihnya mohon maaf yah.

Ekspresi Terbaik

Bintang film berakting itu biasa, ribuan ekspresipun bisa diaplikasikan sesuai skenario. Bagaimana dengan film animasi? Bisakah mereka (para bintang film jadi-jadian) berekspresi sesuai keinginan sutradara? Ternyata ada yang bisa....! Yap, penghargaan ini diperebutkan secara ketat oleh dua judul film yang dibuat di dua belahan bumi berbeda.

Pertama, Shrek sekeluarga (I-III). Jika diperhatikan, tokoh dalam film ini dapat berekspresi selayaknya manusia beneran. Senyum Fiona yang manis mampu menyembunyikan berkilo-kilogram lemak dan warna hijau yang mencolok, ekspresi memelas Pussy in Boots pun dapat meluluhkan hati lawannya sekaligus penonton film ini. Dengan teknologi aku-dan-kau-tak-tahu-apa, pembuat film ini mampu menjiplak ekspresi manusia dan menempelkannya ke dalam tokoh-tokoh dari negeri dongeng tersebut.

Kedua, Final Fantasy VII - Advent Childrens. Sesuai subjudul, Tokoh animasi dalam film ini juga mampu membuat ekspresi wajah yang begitu natural. Dalam salah satu adegan, Aeris tersenyum manis sekali, ooh...so sweat...sampai berkeringat melihatnya. Sayang ilustrasi yang didapat kurang bagus.

Dibandingkan Shrek, Final Fantasy VII - Advent Childrens memiliki tingkat detil yang sangat tinggi. Adegan pertarungan antara Cloud dan Sephirot di tengah kota mampu melegakan dahaga para pecinta khayalan tingkat tinggi (refer to me). Detail tembok-tembok yang hancur dan terbelah begitu realistis (aka mirip aslinya). Selain itu, desain latar belakang begitu kreatif, motor yang aneh, pedang yang bisa terpisah-pisah menjadi beberapa bagian, kostum keren, dan suasana kota yang tidak sama dengan kota apapun di bumi ini.

Penyakit kebanyakan film kelahiran Negeri Matahari Terbit, sebagus apapun grafisnya, cerita tetap nomor dua. Plot ceritanya merupakan sekuel dari game Final Fantasy VII. Karena dibuat berdasar game, tentunya (tuh kan, kata favorit muncul lagi) cerita yang difilmkan tidaklah lengkap karena hanya merupakan pengembangan plot dari sebuah game. Secara tidak langsung, peringatan "main gamenya dulu, baru nonton filmnya" tertempel di bungkus DVD-nya. Sebagai penikmat mi instan, nonton film pun harus instan, wawancara dengan temenku yang agak-agak otaku berhasil sedikit membuka pikiran untuk menerima alur cerita yang berlubang-lubang.

Overall, dengan segala hormat aku menganugerahkan film dengan ekspresi terbaik kepada.... deng...deng...deng...
Final Fantasy VII - Advent Childrens.

Desain Terbaik

Optimus Prime bisa berbangga, film yang dibintanginya mendapat anugerah desain terbaik. Bandingkan saja, Transformers versi kartun jadul dan versi layar lebar terbaru memiliki lompatan kuantum dalam hal desain. Megatron yang sebelumnya digambarkan cuma kotak-kotak dengan muka bodoh berhasil diperbaiki citranya dengan desain raksasa yang terkesan keren dan sangar.

Adegan tranformasi yang dulunya sangat sederhana dan dapat dinalar, sekarang terlihat begitu rumit dan detil, dari mobil mengkilap menjadi robot raksasa yang keren dan "berotot". Kasian Bandai, susah bikin versi mainannya.

Sebelumnya aku berfikir untuk mengangkat Gundam. Setiap judulnya, Gundam dapat memiliki puluhan sampai ratusan desain mobile suit yang berbeda. Setiap kali gundamnya rusak, sang tokoh utama pasti dapet gundam baru dengan desain yang berbeda. Meskipun demikian, seperti serial anime Jepang lainnya. Setiap judul yang serumpun pasti memiliki pola cerita dan desain yang serupa. Demikian juga Gundam, untuk mobile suit tokoh utama misalnya, biasanya memiliki kombinasi warna merah dan biru, dan memiliki perisai. Apa mau dikata, maksudnya untuk ciri khas, tradisi yang dilestarikan ini menjadikan Gundam kandas dalam penghargaan ini.

Ide Terbaik

Menurut versiku, ide terbaik disandang sebuah film yang berusaha meyakinkan bahwa kehidupan manusia yang dilakukan sehari-hari (makan, tidur, ngetik, ke kantor, jalan-jalan, dsb.) hanyalah mimpi belaka. Kenyataannya ras manusia dikloning secara massal oleh alien yang berbentuk robot dan ditempatkan dalam telur-telur buaian. Setiap telur memilik banyak selang-selang yang terhubung dengan menusia di dalamnya yang meng-online-kan semua manusia kloningan dengan server mimpi. Server mimpi tersebut memberikan kehidupan virtual (sebut saja dunia Matrix, sama seperti judul filmnya) kepada semua manusia. Dengan demikian, kehidupan yang dijalani dari lahir sampai meninggal dunia sebenernya hanyalah didalam telur-telur buatan alien. Dengan bermimpi, ternyata manusia mengeluarkan energi (bener gak sih?) yang digunakan bangsa alien untuk menghidupi dirinya. Selain itu. selang-selang tersebut juga berfungsi untuk mengalirkan makanan dan oksigen, serta membuang kotoran.

Dalam dunia Matrix tersebut ada juga antivirus yang bertugas untuk menjaga stabilitas sistem agar berjalan baik, termasuk untuk membasmi pengganggu-pengganggu seperti Morpheus dan kawan-kawan. Mereka adalah manusia-manusia yang memiliki kemampuan lebih yaitu dapat melawan mimpi fana yang diskenariokan oleh bangsa alien tersebut dan "bangun" untuk memperoleh kehidupan yang sejati. Mereka berjuang dengan memasuki sistem dan berusaha mencari manusia-manusia lain yang mau "dibangunkan" juga.

Merasa terancam dengan gerilya para manusia, alien memburu mereka sampai ke basis pertahanan terakhir, kota Zion yang terletak tersembunyi di dalam tanah.

Sayang, endingnya kurang mantep, cuma gencatan senjata saja. Bangsa mesin akan berhenti menyerang Zion jika Neo, sang "Superman", mau membantu menghancurkan Mr. Smith, firewall yang berubah jadi virus ganas dan mengacaukan sistem.

Penasaran? Nonton aja sendiri, disarankan nonton satu atau dua kali agar dapat memahami alur ceritanya.

Cerita Terbaik

Kali ini, aku tidak akan berkomentar banyak, takut mengecewakan penonton. Inti cerita film My Sassy Girl sangatlah sederhana yaitu masalah percintaan yang klasik tetapi alurnya begitu mengundang "oh, ternyata adegan ga penting tadi ada hubungannya dengan adegan ini" dan menghasilkan kejutan yang menarik di detik-detik terakhir (tonton aja sendiri).

Ceritanya disadur dari komik sepuluh volume bertajuk sama yang dibuat oleh aku-gak-tau-siapa,-lupa dari Korea. Dari sepuluh volume tersebut dikompres menjadi film berdurasi dua jam menghasilkan perpaduan adegan-adegan yang menarik, kreatif, dan antisinetron dengan efek samping komik jelek tersebut menjadi lebih pede muncul di Gramedia. Sori kalo penjelasannya ngambang; seperti paragraf sebelumnya, tonton aja sendiri.


Ketegangan terbaik

Die Hard sekeluarga memang ga ada mati-matinya. Dari awal, penonton sudah disuguhkan hormon adrenalin yang menggelontor. Dibumbui plot yang rumit membuat ketegangan semakin semakin tegang (yeah,pengulangan yang parah). Bruce Willis patut bersyukur penyanderaan, pembajakan pesawat, peledakan bom, dan kelumpuhan jaringan komputer dunia hanya terjadi sebatas dalam kotak ajaib aka TV, kepingan DVD, atau di 21 saja. Dasar orang susah mati.

Konversi Terbaik

Novel setebal delapan ratusan halaman seharga puluhan-ratusan ribu diubah menjadi kepingan DVD seharga enampuluh ribuan bahkan lima ribuan untuk versi bajakannya di Glodok. Tanpa manajemen yang baik, cerita dan pesan moral yang terkandung dalam novel dapat berubah dan melenceng karena perbedaan intepretasi antara si pengarang novel dengan sang sutradara.

Lain halnya dengan Harry Potter, sutradaranya berhasil menemukan cara mengaudio-videokan halaman-halaman novel yang tebal tanpa mengurangi mutu (ya deh, mutunya turun, tapi dikit kan). Tepukan tangan lebih meriah diberikan kepada Harry Potter and Order of The Phoenix, alur ceritanya lebih smooth dibandingkan dengan kakak-kakaknya yang lahir duluan.

Contoh kegagalan konversi novel-film terjadi pada Da Vinci Code yang menghasilkan film yang ga jelas dan terkesan ada-yang-hilang karena memang banyak detil penting yang dikebiri.

Senin, 12 November 2007

Lift Salah Nama

Sekali lagi keadilan ditegakkan. Sebuah maskapai penerbangan di Indonesia menerima kaum penyandang cacat untuk bekerja sebagai pramugari. Nih video yang berhasil di ambil oleh temenku di bandara.



n.b.
1. Tulisan di atas lift: "Lift Penyandang Cacat"

2. Cowok yang terlihat duduk kaya orang ilang di pojok kanan bawah adalah diriku (sumfah ane zuzur). Pisss...

Bukanlah Pagar Makan Tanaman Tapi Sangkar Makan Anggaran



Jakarta memang kota kejam, tempat sampahpun perlu diberi sangkar biar aman dari pencuri. Foto diambil di Bandar Jakarta, sebuah restoran di Ancol.



Oh...salah. Ternyata bisa dibuka dengan tangan kosong. Terus buat apa dong?
Pasti biar keliatan lebih cantik. Oh engga' yah.

Basmi

Otaku 1:

Apa nih...! Komputer jadi lambat! Pasti virus kurang ajar nih...!

Apa! Ngga' Kedetek? Busyettt... dasar antivirus murahan...!

Otaku 2:

Mau antivirus yang ampuh? Ada nih.

Otaku 1:

Mana... Antivirus apa??

Otaku 2:

format c:

Otaku 1:

Yee....

Konten Lainnya