Penelusuran google

Selasa, 16 September 2008

Inisiasi

Hari ini, 13 September 2008,....

I'll Be Allrightnya Anggun berdering dari hapeku. Pagi-pagi puasa sudah ada yang telepon.
Rupanya Abang Ferhad (AF), "Zhar, aku sudah di depan rumah," katanya. Dengan tenaga yang ada diriku segera bangkit menyambut tamu spesial dan segera bertolak ke Mendalo di Filipina di Muara Jambi sana.

Sehari yang lalu, Jumat, 12 September 2008,....

"asmkm, zhar, bsok brkt jam brapa?," sms dari AF kuterima. "Kalo bs pagi sblm jam7.poto dah dicetak ni," balesku.

Beberapa saat sebelumnya....

"Mbak, minta cetak masing-masing 2x3 sepuluh kali sama 3x4 sepuluh kali," pintaku (cieeh, diksinya) sambil menyerahkan flashdisk.
ABG-lumayan-cakep-penjaga-konter-hape-sekaligus-cetak-foto-digital: "...."

"Mbak, minta cetak masing-masing 2x3 sepuluh kali sama 3x4 sepuluh kali," kataku, copy-paste dari kalimat di atas.

ABG-lumayan-cakep-penjaga-konter-hape-sekaligus-cetak-foto-digital: "Apa, Bang?"
"Mbak, minta cetak masing-masing 2x3 sepuluh kali sama 3x4 sepuluh kali," menekan ctrl+v untuk kedua kalinya, "ini cetak sepuluh...."

ABG-lumayan-cakep-penjaga-konter-hape-sekaligus-cetak-foto-digital: "Ooh... sepuluh lembar?"

"Ya...," mulutku, "cakep-cakep kok tulalit," otakku.

Sinetron ini dilanjutkan dengan adegan tidak penting di mana ABG-lumayan-cakep-penjaga-konter-hape-sekaligus-cetak-foto-digital tersebut rupanya kurang mumpuni menangani Adobe Photoshop yang memang didesain untuk profesional dan kemudian diriku berpindah konter dengan penjaga yang lumayan cakep juga tetapi sudah agak dewasa. Sedikit pelajaran hari ini, ternyata ada korelasi antara kedewasaan dan kemampuan menggunakan perangkat lunak... (ga penting ya....)

Lima hari yang lalu, Senin, 8 September 2008,....

"Kurang ajar," Aji melepaskan kekesalannya dengan diksi yang salah, "Masa aku coba transfer di BRI kota sini kata tellernya nama pemilik rekeningnya salah. Berarti pemilik rekening-rekening itu bukan Rektor dan Dekan Universitas Jambi (untuk selanjutnya disebut Unja), dong. Unja memang licik."

"Jadi harus transfer di BRI deket kampus Unja sana, dong. Sekalian aku nitip transfer ya...."

Rabu
, 10 September 2008, sore hari,....


Aji Melapor. Rupanya, BRI di kampus Unja belum online jadi tidak ketahuan pemilik rekening sebenarnya yang mengaku sebagai dekan/rektor tersebut. Bisa saja Mbah Marijan, Al Amin Nasution, Dewi Perssik, atau artis-artis lainnya. Setiap slip transfer hanya dicap dan tanda tangan petugas bank. Sungguh dosa besar dalam dunia Sistem Pengendalian Intern.

Dengan demikian secara resmi saya sudah membayar uang pembangunan, uang kemahasiswaan, dan apapun itu sebagai mahasiswa baru Program Ekstensi Fakultas Ekonomi Jurusan Akuntansi, akreditasi N/A (terpaksa tidak ada yang lebih bermutu di Kota Jambi ini).

Sabtu, 13 September 2008, hari terakhir batas waktu registrasi mahasiswa baru...

Semua terlihat normal dan terrencana, berkas-berkas telah disiapkan. Pengambilan formulir registrasi tidaklah terlalu bermasalah. Dalam hal ini pungli Rp1.000,00 perorang tidak dipermasalahkan. Pelayanan satu pintu sangat diagungkan, semua mahasiswa berjubel di satu loket, sungguh pemandangan yang tidak luar biasa di Indonesia. Banyak yang tidak membawa persyaratan lengkap karena minimnya informasi. Dalam pengumuman disebutkan cukup membawa slip transfer untuk mengambil formulir registrasi ternyata harus membawa foto kopi ijazah dan pas foto 3x4 dua lembar. Diriku aman, semua sudah disiapkan berkat info yang akurat dari Riski, teman kantor yang lebih dahulu sudah melakukan registrasi.

Hal yang perlu dilakukan selanjutnya adalah mengisi formulir. Rupanya ada empat lembar formulir yang harus diisi, dan tiga di anataranya harus ditempel pas foto beralmamater Unja. Masalah almamater ini sudah diselesaikan secara jantan.

Kamis, 11 September 2008

Berdasarkan informasi dari Riski, untuk mengambil jaket almamater Unja, diperlukan bukti pengambilan registrasi DAN HASIL TES URINE. Persyaratan yang kedua menjadi masalah karena tidak pernah disosialisasikan sejak awal dan tidak ada dasar hukum yang jelas apakah itu Undang-undang Dasar, Undang-undang, Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-undang, Peraturan Pemerintah, ataupun Keputusan Rektor atau Dekan, atau apapun yang bisa dijadikan dasar. Tanpa adanya hasil tes urine jaket almamater tidak dapat diambil. Tanpa Jaket almamater tidak bisa foto dengan menggunakan jaket almamater. Tanpa pas foto berjaket almamater tidak dapat mengisi formulir registrasi. Jadi ingat rantai makanan....

Riski dengan sedikit usaha dapat meminjam jaket almamater kepada Pipit, oknum mahasiswa baru yang dengan patuhnya menjalankan tes urine. Lebih tidak bermoralmodal lagi, diriku bersama dua oknum lainnya menempuh jalur lebih singkat. Dalam hal ini Photoshop bajakan sangatlah berguna, cukup menindih kepala Riski dengan kepala kami, jadilah foto kami beralmamater, tinggal dicetak massal.

Kembali ke hari ini, 13 September 2008,....

Pengisian formulir registrasi berlangsung efisien, pensil 2B pinjam, lem minta, sungguh irit. Pengisian biodata tidak seifisien yang diperkirakan, ada formulir yang manual dan ada formulir yang menggunakan pensil 2B, merepotkan. Total pas foto yang harus ditempelkan sudah tidak terhitung lagi (hiperbolik banget). Tetapi semua dapat diatasi, semua disatukan dan dimasukkan dalam map.

Loket sudah semakin padat, absurd, tidak ada yang mengatur antrian sehingga tentu saja alih-alih terdapat antrian yang ada adalah kerubutan (turut berduka cita atas kejadian pembagian zakat di Pasuruan). Dengan gerakan yang efisien diriku berhasil meletakkan map punya saya di mulut loket, licik yah. Licik itu relatif, jika semua melakukan hal yang sama berarti cukup adil.

Map masuk ke dalam dan melewati proses yang panjang dan melelahkan di tangan petugas. Formulir yang di rapihkan kemudian dipisahkan mana yang untuk kampus mana yang untuk bank kemudian salah satu bagian dikembalikan sebagai kartu mahasiswa sementara. Ternyata map punya saya tidak melewati proses yang semestinya karena kurang satu dokumen yaitu foto kopi ijazah. Ya ampuun, sudah berapa kali diriku menyerahkan ijazah ke mereka? Sekali ketika pendaftaran awal sebelum matrikulasi, kedua hari ini saat pengambilan formulir registrasi, dan masih harus menyerahkan untuk ketiga kalinya, hattrick dong.

Hal ini menjadi sangat bermasalah karena:

1. Saya tidak menyimpan ijazah asli. Ijazah asli masih tersimpan di suatu ruangan di STAN sana. Maklum, ikatan dinas, jadi biar tidak kabur ijazah ditahan dulu dan hanya diberi tiga foto kopian yang sudah dilegalisasi.

2. Dari tiga lembar foto kopi ijazah dua lembar di antaranya sudah berpindah tangan ke Unja,

3. Foto kopi ijazah terakhir saya simpan di filling kabinet di kantor dan dikunci.

4. Kunci filing kabinet saya simpan di rumah.

5. Posisi saya sekarang adalah di kampus Unja.

Dengan gerakan a la Valentino Rossi yang kebelet pipis, saya segera melakukan tindakan semestinya. Singkat kata singkat cerita, foto kopi ijazah sudah di tangan. Untuk antisipasi apabila suatu hari saya memerlukan ijazah saya, saya harus menyimpan salinannya. Saya memutuskan untuk melakukan pemindaian.

Permasalahan selanjutnya:
1. Scanner berada di ruang Subbagian Hukum dan Humas yang dikunci,

2. Kunci ruangan dipegang satpam;

3. Satpam yang bersangkutan yang seharusnya standby ternyata tidak di tempat dan beredar entah ke mana, terpaksa harus mencari kunci ruangan di meja satpam,

4. Jumlah kunci ruangan sangat banyak dan semuanya berbentuk sama, harus dicoba satu persatu.

Akhirnya perjuanganpun dimulai. Dengan kemampuan supranatural saya yang memang tidak natural saya mencoba menebak kunci mana yang digunakan untuk membuka ruangan. Berhasil! Berhasil saudara-saudara, setelah percobaan kesembilan saya berhasil menebak kunci yang benar. Adegan selanjutnya sama sekali tidak memiliki unsur mistis, ijazah yang sudah berbentuk kopian saya scan dan disimpan dalam harddisk.

Pikiran jahat saya:

Jika suatu saat saya memerlukan ijazah saya, misalnya seorang penjual nasi uduk tidak percaya saya berhasil luluslolos STAN dan saya harus menunjukkan foto kopi ijazah yang sudah dilegalisasi, atau sekadar pamer kepada calon mertua, saya harus mencetak ijazah saya dengan printer warna sehingga stempel "sesuai dengan aslinya" terlihat berwarna biru dan terkesan stempel asli.

Setelah melaksanakan apa yang diperlukan, dengan semangat a la Valentino Rossi saya memacu motor Yamaha saya. Kali ini Bang Rossi kebelet boker dan satu-satunya WC yang terdekat adalah di kampus Unja.

Setelah berfikir 999 kali, saya berfikir sekali lagi dan memutuskan untuk tetap menyimpan foto kopi ijazah dengan stempel legalisasi asli dan menyerahkan ijazah hasil cetakan yang mirip dengan foto kopi ijazah dengan stempel legalisasi asli.

Dengan banyaknya mahasiswa baru yang melakukan registrasi, map saya berhasil lolos dan dikembalikan dengan form Kartu Rencana Studi beserta Kartu Mahasiswa Sementara. Hari ini cukup sekian, pengurusan KRS dimulai tanggal 19 September 2008 nanti.

Dosa saya hari ini:

1. Mengata-ngatai Unja yang lambat dan semrawut (ups, saya melakukannya lagi);

2. Memalsukan legalisasi salinan ijazah (bukan memalsukan ijazah atau jangan-jangan sebenarnya tidak ada ijazah yang asli dan saya tidak mengetahuinya). Ijazah asli saja bisa dipalsukan apalgi sekadar salinannya. Tanggal kadaluarsa saja bisa diganti, makanan sisa saja bisa diolah kembali, anggaran negara saja bisa dinego, nomor urut caleg saja bisa dipesan, bla...bla...bla....

3. Menggunakan nama Valentino Rossi tanpa membayar royalti;

4. Tidak mendukung Gerakan Disiplin Nasional dengan menyerobot menjejalkan map di mulut loket (sekali lagi, licik itu relatif);

5. Dengan sengaja tidak melakukan tes bebas narkoba, menghemat Rp120.000,00 tetapi rugi lebih besar karena tidak dapat mengambil jaket almamater yang sudah saya bayar sejak awal. Walaupun tidak dapat dijerat secara hukum tetapi dengan demikian saya tidak menunjukkan itikad baik.

Minggu, 07 September 2008

Krisis Privasi

Belalang tempurku melaju dengan kecepatan yang masih wajar (emang bisa melaju dengan kecepatan cahaya...?). Sejenak menoleh ke arah kanan jalan, Hau's Tea, salah satu restoran semi modern di Jambi, menjadi pusat perhatianku walau untuk sesaat.

Puasa-puasa begini memang penuh godaan, makanan misalnya (namanya juga puasa). Namun, godaan terhadap makanan tidaklah fatal karena seekstrim apapun dirimu membayangkan makanan dalam otakmu sampai air liur memuncratpun tidak akan membatalkan puasa. Coba godaan yang lain, menggunjing, berkata bohong, berpikir mesum, misalnya, susah dihindari dan kadang secara tidak sadar (baca: naluriah; reflek) kita melakukannya. Walaupun officially tidak membatalkan puasa, perbuatan-perbuatan remeh tersebut dapat menghilangkan makna dan pahala puasa. Kok jadi sok religius begini yah....

Sebenarnya yang menjadi perhatian utama sepersekian detik tersebut adalah tirai penutup jendela yang menghalangi akses orang di luar untuk melihat oknum-oknum yang sedang menikmati makanan di saat orang lain berpuasa. Menurut saya, tujuan utama pemasangan tirai tersebut menjadi bias antara sebagai bentuk toleransi terhadap orang yang berpuasa dan sebagai perlindungan terhadap identitas muslim yang meninggalkan kewajiban berpuasa. Lebih lagi, orang yang secara legal tidak berpuasa (orang yang beragama selain islam, maksudnya) akan merasa tidak nyaman dengan kondisi rumah makan/restoran yang tertutup.

Mbok yo jangan cuma rumah makan yang ditutup-tutupi, paha-paha dan aurat lainnya juga harus disembunyikan, they're bothering me.....


Met puasa ya....

Kamis, 28 Agustus 2008

Selasa, 26 Agustus 2008

Jika Dirimu Merasa gagal dalam Semua Hal, Lakukanlah satu hal lagi dan Kerjakan dengan Benar!

If you feel ... bla-bla-bla, susah ah menginggriskannya, yang penting kan mengerti maksudnya. Memang sebagian orang merasa lebih keren apabila menggunakan Bahasa Inggris dalam tulisannya. Tapi bagaimana ya, membaca aja sulit....

Benar kawan-kawan dan pembaca semua, beberapa waktu ini waktuku banyak tersita dengan pekerjaan. Suatu hal yang bertentangan dengan moto hidup "bekerjalah untuk hidup, jangan hidup utuk bekerja". Sampai-sampai blog yang sudah terasingkan dari peradaban ini terasingkan dari hidupku sebagai pengampu pula. Beruntung menemukan mobile blogging, sedikit kata-kata, banyak gambar, lebih sedikit waktu yang diperlukan untuk ngepost.

Ada yang bilang kegagalan adalah keberhasilan yang tertunda, sebuah penyemangat yang mengisnpirasi. Diriku mengalaminya sendiri bapak-bapak dan ibu-ibu, kecewa rasanya apabila terjadi suatu hal yang tidak kita perkiraan sebelumnya. Terlebih lagi apabila keblunderan kita membuat kecewa orang lain yang mengharapkan pekerjaan yang baik dari kita.
Saya kira tidak perlu dideskripsikan secara detail dalam blog ini karena akan membingungkan pembaca semua.

Beberapa ini saya diuji dalam hal multitasking. Ibaratnya seperti ibu rumah tangga yang harus mendidik anak sekaligus harus bekerja seharian untuk memenuhi kebutuhan hidup. Dua hal yang berbeda tetapi seringkali diangap sebagai komplementer. Ketiga menghadapi dua ujung dunia yang berbeda tentulah semua tidak dapat diraih, salah satu harus diabaikan. Teringat salah satu adegan di mana Batman harus menyelamatkan salah satu dari dua sahabatnya yang disekap Joker di ujung sisi kota Ghotam yang berlainan, begitulah kira-kira. Ketika Batman memutuskan untuk menyelamatkan salah satunya, dia harus siap untuk menghadapi penyesalan yang tak berkesudahan karena meninggalkan yang lain.

Saya yang powerfull ini mencoba untuk menyelamatkan keduanya. Rupanya teknologi hyperthreading dalam otakku belum sempurnya, hampir-hampir nge-hang. Tidak separah itu sih, tetapi yang jelas membuat hidupku tidak tenang beberapa waktu terakhir. Banyak yang terselesaikan setengah dan beberapa terpaksa diabaikan. Kecewa, tidak ada yang terselesaikan tuntas. Setiap kali gagal, perasaan "i'm so damn looser" muncul dalam benak menimbulkan pemikiran "i can do nothing" yang sungguh membuat jatuh mental.

Untuk menghilangkan perasaan-perasaan jahat itu saya membuat rencana suatu hal yang mudah dikerjakan. Hasilnya, wholaa, i felt great (contoh pengunaan frase English biar lebih keren). Hari ini saya berhasil menyempatkan waktu untuk belanja buah di minimarket, saya berhasil dengan gemilang mendatangi tempat cucian motor dan pulang dengan motor yang kinclong, saya berhasil membeli titipan teman saya di toko sovenir, saya berhasil melakukan banyak hal tidak penting lainnya....

Whatever you say, at least i can do something successfully, puas rasanya.

Senin, 18 Agustus 2008

Mencoba Posting Berbobot


Can you help me finding something odd?

Abroading


Akhirnya foto ini dipublish juga.
Dari kiri ke kanan: Fauzan, sedang menimba ilmu Diploma 4 akuntansi di Jakarta; Azhar, ngakunya blogger padahal penggemar komik Jepang, masih terperangkap di Jambi; Lambang Prabowo, S.E., M.Si., Ak., di Jayapura.
Fotografer: Gentur, betah di Jakarta.
Latar belakang: perbatasan Indonesia - Jayapura.

Konten Lainnya