Pernah rasanya bermutasi? Tiba-tiba jadi kuat setelah digigit laba-laba beracun hasil rekayasa genetik? Itu namanya Spiderman. Tiba-tiba jadi idola wanita setelah disepak buaya lumpur lapindo? Itu namanya Buaya Darat.
Mutasi yang saya alami memang sedikit berbeda; tidak melibatkan perubahan DNA ataupun peningkatan hormon yang luar biasa, hanya mutasi pegawai. Garing yah...
Rumput tetangga memang salalu terlihat lebih hijau, begitulah pepatah yang sering kita dengar. Bintang film terlihat lebih ganteng, Presiden terlihat lebih kaya, Orang Jepang terlihat lebih pintar, orang Cina terlihat lebih pelit, Wordpress pun terlihat lebih menjanjikan dengan fitur template yang lebih lengkap.
Para maniak blogspot jangan marah dulu, saya hanya singgah sebentar di titikn0l.wordpress.com. Antara menetap atau sekedar mampir itu diputuskan nanti. Siapa tahu saya kepincut sama anak gadisnya barulah bisa diputuskan menetap untuk waktu yang lama dan melepas blogspot sendiri. Kejam ya, namanya juga mekanisme pasar, ada persaingan sempurna, ada yang berhasil, ada juga yang tidak laku dan ditinggalkan.
Siapa bilang cuma PNS yang bisa mutasi, blog pun bisa berubah. Sayang, tidak ada tempat mangkal yang lebih "lokal", kedua-duanya sama produk Barat. yak, setelah pita digunting, kendi dipecahkan, gong dipukul, dan tombol "enter" ditekan resmilah titikn0l pindah (sementara dan mungkin selamanya) dari Blogspot ke Wordpress. Kres... prakk... gooooong... klik.
Penelusuran google
Senin, 20 Oktober 2008
Minggu, 19 Oktober 2008
Sepuluh itu Sembilan Ditambah Satu
Ribuan orang menulis blog ribuan pula pemikiran dan kisah yang ditulis. Setiap blogger memiliki gaya penulisan dan tema cerita sendiri. Tentu saja titikn0l juga memiliki warna tersendiri (dengan gaya pembawa acara Silet).
Puisi, tidak pernah tuh masuk postingan saya, bukan karena saya membenci puisi tetapi saya buta puisi; hanya memandang puisi sebagai kumpulan kata dengan akhiran yang seragam (biasanya disebut serima). Padahal kata orang puisi sangat diperlukan dalam urusan gaet-menggaet cewek. Terserahlah, nanti kalau dipaksa puitis malah bukannya romantis tapi jadi kisah cinta tragis gara-gara ditolak gadis. Memang miris. Mending cari cewek yang kebal puisi juga, he...he.... Mending dicap ngga keren daripada dituduh cuma ikut-ikutan tren, lihat saja banyak artius yang jadi mendadak religius pas bulan puasa rame-rame rilis album bertema agama, tak ketinggalan juga Si inul Daratista.
Cerita seputar pekerjaan..., sudah saya coba hindari postingan semacam ini tetapi dalam beberapa kesempatan saya tidak dapat membendung hasrat untuk menceritakannya. Tentu saja postingan saya tidak dapat sepenuhnya dicerna oleh orang awam ibarat seorang Akuntan baca buku Kalkulus I, kalkulus II, Kalkulus III, dst. ya tidak nyambung. Maksudnya teknis banget gitu, blogger yang pingin blognya laku sangat tidak disarankan untuk meniru yang satu ini.
Kisah-kisah pribadi..., maksud saya yang benar-benar untuk konsumsi pribadi tidaklah cocok dimuat dalam media yang ditujukan untuk konsumsi publik. Seperti misalnya:
atau
Bukannya apa-apa, selain tidak penting, posting-posting semacam itu dapat merugikan kita seperti misalnya, saingan dalam cinta langsung mengambil langkah setelah mendengar cewek incarannya menjomblo. Tentu saja sang saingan yang melek internet sudah lama memantau perkembangan blog saya. Coba saja cari di Google dengan kata kunci "Azhar firdaus" pasti akan keluar blog saya dan blog yang pernah saya tinggali komentar. Polisi yang sudah lama memburu para kanibal pasti akan sering cari "daging manusia", "daging wanita muda", dll. di Google.
Nah, kali ini saya dipaksa membuat postingan bertajuk "10 Fakta tentang Saya" oleh seorang berinisial D (pernah dengar komik/anime berjudul "Initial D"? Itu tidak ada hubungannya dengan posting ini). Sebuah posting yang sangat menyentuh daerah pribadi (Apa maksudnya...?).
Sebelumnya, sedikit kilas balik ke zaman saya SD dulu. Sewaktu masih kelas 3 atau 4 (lupa....) karena sindrom-pengen-terkenal yang menggebu-gebu akhirnya saya secara iseng-iseng saya mengirimkan biodata beserta pas foto ke sebuah majalah yang sangat terkenal di kalangan anak muda pada zaman itu, majalah MOP namanya. Alhasil, foto beserta biodata saya terpampang dalam rubrik sahabat MOP, rubrik yang paling jarang dibaca setelah Pengantar Redaksi. Memang tidak banyak yang tahu tetapi segelintir orang yang menyadari keeksisan saya dalam dunia jurnalistik (cieee.... masuk majalah, gitu loohhh) membuat saya tidak nyaman. Salah satu di antaranya adalah seorang maniak sahabat pena dari ... (lupa daerah mana) yang terserang virus mematikan bernama "Surat Berantai". Dari sekian milyar manusia di bumi ini, dari sekian juta pelajar di Indonesia, dari sekian ratus Sahabat MOP, terpilihlah lima orang menjadi downline-nya dengan diriku sebagai salah satunya.
Beberapa abad kemudian, Nenek lampir dibangkitkan....Beberapa tahun kemudian saya mencoba untuk terkenal untuk kedua kalinya. Friendster jalannya, situs pertemanan semu yang cukup menjanjikan. Sayangnya, diperlukan koneksi internet yang berlimpah untuk dapat selalu eksis dalam dunia FS (ngasi komen, ngeganti sotout, ngisi bulbo, berjam-jam ngatur layout, dan tentu saja ngeadd member yang tidak kita kenal untuk kemudian dijadikan fren) yang tentu saja tidak dimiliki pemuda kampung sepertiku. Akhirnya dengan bersahaja (apa maksudnya...) diriku memanfaatkan FS ala kadarnya untuk lebih mencari teman SMA/SMP dulu serta kawan-kawan yang jauh, dengan FS serasa lebih dekat.
Hahah... jangan curiga saya telah diperbudak FS untuk promosi mati-matian. Bukan itu intinya. Kembali ke kalimat utama paragraf sebelum paragraf di atas yaitu tentang "Surat Berantai". Dalam dunia FS (dan mungkin situs jejaring sosial yang lain seperti: Hi5, Facebook, Multiply, Divide, Add, dan Subtract) dan sebelumnya tersebar via surek (surat elektronik, bo, a.k.a. e-mail), dan sebelumnya lagi via sms sudah ada yang namanya surat berantai sejak beberapa tahun cahaya yang lalu. Ciri utama surat berantai ini adalah objek surat didahului [FWD] atau [TRS] yang tentu saja singkatan dari forward dan terusan (ya, toh?), jarang yang dengan rajinnya mengubah objek surat atau sekedar menghapus karakter-karakter yang diapit tanda kurung kotak tadi (apa namanya yah?). Motto surat semacam ini sangat sederhana, "forward dulu baru baca".
Nah ibarat surat berantai yang versi kertas, surek semacam ini juga tidak memiliki aura "inilah saya; ini kata-kata saya; saya berbicara dengan anda", seperti ketika membaca sebuah surat yang berbentuk foto kopian cuma diganti nama pengirimnya saja, satu kata, hambar. Hambar? Iya. Ketika membaca tulisan tangan seseorang atau setidaknya hasil ketikan dia (hasil pemikiran dia; susunan kata-kata yang khas dari dirinya) tentu sedikit banyak kita akan terbayang dirinya (cie...............), inilah yang disebut aura "inilah dia; inilah kata-katanya; dia berbicara dengan saya". Seperti Anda membaca blog ini pasti akan terbayang aura saya yang terlihat cerdas, tampan, baik hati, suka menabung terlihat dari susunan kata-kata yang luar biasa dari otak saya (*dengan gaya pambawa acara enterpreunership*). Tepuk tangan untuk akting saya yang jelek....
Oleh karena itu, setelah dijelaskan dengan panjang kali lebar sama dengan luas, kesoktahuan saya mengarahkan saya untuk tidak mengabaikan surat berantai yang saya terima. "Jika surat ini tidak disebarkan ke sepuluh alamat e-mail lainnya dalam jangka waktu satu jam, anda akan tertimpa kesialan....", atau "Sebarkanlah info ini ke sepuluh teman anda....", "kirimkan ke sepuluh nomor M3 lainnya dan anda akan mendapat pulsa gratis rp100.000, gratis!...." atau "tunjuk sepuluh blogger lain untuk memposting tema serupa....", sudah tidak mempan terhadap saya. Ya, sedikit pengakuan dari saya, ada beberapa e-mail yang saya forward juga, tentunya dengan pertimbangan tersendiri.
DISCLAIMER: Terlepas dari itu semua, saya tidak pernah membenci para penyebar surat berantai ataupun berniat untuk kampanye habis-habisan untuk menentang beredarnya surat berantai. Sedikit iseng-iseng masihlah termasuk hal yang lumrah.
Kembali ke soal "10 Fakta tentang Saya", dengan sedikit kebijaksanaan (apaan sih) saya sajikan (apa lagi?) dalam postingan saya kali ini yang tentu saja sudah saya paparkan dalam uraian di atas(ini juga!). Untuk mengingatkan, kita lihat lagi chart MTV Ampuh kali ini.
#1 Saya tidak suka membaca puisi dan membuat puisi karena memaksa saya untuk membangkitkan jiwa pujangga saya yang sedang hibernasi jauh di lubuk hati yang paling dalam.
#2 Saya suka mencampurblenderkan ngeblog dan menyusun laporan sehingga diksi dalam blog saya maupun laporan yang saya susun menjadi kacau.
#3 titikn0l adalah blog saya, memang belum dipatenkan tetapi tidak dianjurkan untuk meniru, percuma, ngga' laku.
#4 Saya suka membaca majalah MOP, bukan karena menjadi barometer gaul atau tidaknya seorang pelajar tetapi karena menjadi majalah yang paling banyak mengisi perpustakaan sekolah. (Coba bayangkan apabila anda mencoba kabur dari kelas yang kosong karena guru sedang rapat/sakit/mangkir *)coret yang tidak perlu dan anda menemukan tempat teraman dan bebas dari razia untuk nongkrong yaitu perpustakaan dan anda hanya menemukan buku Kalkulus, Klasifikasi Kingdom Hewan, dan majalah MOP, mana yang anda pilih?) Dulu, saya mengira MOP adalah singkatan dari Majalah Orang Pelajardan akhir-akhir ini berubah menjadi Madjalah Oentoek Peladjar. Mana yang benar itulah yang jadi misteri.
#5 Saya membaca majalah Si Kuncung dengan alasan yang serupa.
#6 Saya ingin terkenal tetapi tidak mau kawin-cerai-kawin-cerai terus sering ngancam-ngancam wartawan infotaimen yang selalu menekan saya untuk membuat pernyataan sehingga saya emosi dan mengeluarkan pistol punya saya terus saya diberitakan dengan keterangan sepihak bahwa saya telah mengintimidasi wartawan. Sekarang kalian tahu gunanya titik dan koma, kan?
#7 Saya tidak hobi merantaikan surat apalagi dari orang yang tidak dikenal.
#8 Saya punya Friendster, tentu saja sebagai jalan untuk terkenal tetapi apa daya, hall of fame itu semu semata. Saya punya cara baru untuk terkenal: ngeblog tapi gagal juga. Samson di film tuyul dan Mbak Yul: "Gagal maning..., gagal maning...."
#9 Saya bukan kanibal pemakan daging wanita muda, itu hanya ada dalam film mandarin murahan yang pernah saya tonton. Salah dia, bikin blog terus ketahuan polisi, eh ternyata polisinya kanibal juga jadi minta jatah juga. akhirnya polisi itu dibunuh (tetapi tidak dimakan, kan bukan wanita, sudah tua pula), bla...bla....
#10 Saya sangat sok tahu. Tentu saja keahlian ini sangat diperlukan dalam dunia politik yang tidak menentu ini. Sok-sok yang lain juga diperlukan, seperti: sok alim padahal suka godain sekretarisnya, sok bisa-meramalkan-kejadian-lima-tahun-mendatang padahal cuma tarif promo (baca juga dong tulisan yang kecil di pojok itu: syarat dan ketentuan berlaku), sok membela rakyat padahal lebih tepatnya memperjuangkan uang rakyat agar tidak masuk kantong orang lain, sok membasmi korupsi padahal kampanyenya penuh dengan politik uang, sok pintar padahal selalu nanya sama bawahan, sok taat hukum padahal selalu mencari celah hukum, dan sok-sok yang lain yang tidak dapat saya sebutkan satu persatu. Ingat, ini paragraf Deduktif jadi kalimat utamanya adalah kalimat pertama, saya cuma sok tahu, yang lain dikit-dikit ada sih tetapi tidak separah para pejabat.
Hehe.... utang lunas, sepuluh fakta telah diwahyukan dan dengan bijaksana saya tidak perlu menunjuk sepuluh blogger lain karena tidak sesuai dengan amanat Pembukan Undang-undang Dasar 1945 yang berbunyi (kalau belum berubah....): "kemerdekaan adalah hak segala bangsa...."
Akhir kata, saya ucapkan selamat kepada pembaca yang telah bertahan selama ini untuk membaca sampai kata-kata terakhir tanpa merasa mual.
Puisi, tidak pernah tuh masuk postingan saya, bukan karena saya membenci puisi tetapi saya buta puisi; hanya memandang puisi sebagai kumpulan kata dengan akhiran yang seragam (biasanya disebut serima). Padahal kata orang puisi sangat diperlukan dalam urusan gaet-menggaet cewek. Terserahlah, nanti kalau dipaksa puitis malah bukannya romantis tapi jadi kisah cinta tragis gara-gara ditolak gadis. Memang miris. Mending cari cewek yang kebal puisi juga, he...he.... Mending dicap ngga keren daripada dituduh cuma ikut-ikutan tren, lihat saja banyak artius yang jadi mendadak religius pas bulan puasa rame-rame rilis album bertema agama, tak ketinggalan juga Si inul Daratista.
Cerita seputar pekerjaan..., sudah saya coba hindari postingan semacam ini tetapi dalam beberapa kesempatan saya tidak dapat membendung hasrat untuk menceritakannya. Tentu saja postingan saya tidak dapat sepenuhnya dicerna oleh orang awam ibarat seorang Akuntan baca buku Kalkulus I, kalkulus II, Kalkulus III, dst. ya tidak nyambung. Maksudnya teknis banget gitu, blogger yang pingin blognya laku sangat tidak disarankan untuk meniru yang satu ini.
Kisah-kisah pribadi..., maksud saya yang benar-benar untuk konsumsi pribadi tidaklah cocok dimuat dalam media yang ditujukan untuk konsumsi publik. Seperti misalnya:
Gue lagi sedih ni. Gue baru aje mutusin cewek gue. Gile aje, masa gue ngegep die lagi jalan ame cowok lain, bla...blas...blas...blas...bablas angine....
atau
Setelah tiga bulan pencarian di Hongkong akhirnya ketemu juga, warung yang menyediakan daging wanita muda. Sebagai kamuflase, warung itu juga jual macem-macem makanan, ada ayam, babi, bebek, anjing, tikus, belalang. Menu daging perawan muda tentu saja tidak masuk dalam daftar menu, harus ngomong langsung dengan pemilik warung. Itupun harus meyakinkan dia kalo kita bukan polisi. Akhirnya kelaparanku selama ini dapat terobati... dst.
Bukannya apa-apa, selain tidak penting, posting-posting semacam itu dapat merugikan kita seperti misalnya, saingan dalam cinta langsung mengambil langkah setelah mendengar cewek incarannya menjomblo. Tentu saja sang saingan yang melek internet sudah lama memantau perkembangan blog saya. Coba saja cari di Google dengan kata kunci "Azhar firdaus" pasti akan keluar blog saya dan blog yang pernah saya tinggali komentar. Polisi yang sudah lama memburu para kanibal pasti akan sering cari "daging manusia", "daging wanita muda", dll. di Google.
Nah, kali ini saya dipaksa membuat postingan bertajuk "10 Fakta tentang Saya" oleh seorang berinisial D (pernah dengar komik/anime berjudul "Initial D"? Itu tidak ada hubungannya dengan posting ini). Sebuah posting yang sangat menyentuh daerah pribadi (Apa maksudnya...?).
Sebelumnya, sedikit kilas balik ke zaman saya SD dulu. Sewaktu masih kelas 3 atau 4 (lupa....) karena sindrom-pengen-terkenal yang menggebu-gebu akhirnya saya secara iseng-iseng saya mengirimkan biodata beserta pas foto ke sebuah majalah yang sangat terkenal di kalangan anak muda pada zaman itu, majalah MOP namanya. Alhasil, foto beserta biodata saya terpampang dalam rubrik sahabat MOP, rubrik yang paling jarang dibaca setelah Pengantar Redaksi. Memang tidak banyak yang tahu tetapi segelintir orang yang menyadari keeksisan saya dalam dunia jurnalistik (cieee.... masuk majalah, gitu loohhh) membuat saya tidak nyaman. Salah satu di antaranya adalah seorang maniak sahabat pena dari ... (lupa daerah mana) yang terserang virus mematikan bernama "Surat Berantai". Dari sekian milyar manusia di bumi ini, dari sekian juta pelajar di Indonesia, dari sekian ratus Sahabat MOP, terpilihlah lima orang menjadi downline-nya dengan diriku sebagai salah satunya.
Hahah... jangan curiga saya telah diperbudak FS untuk promosi mati-matian. Bukan itu intinya. Kembali ke kalimat utama paragraf sebelum paragraf di atas yaitu tentang "Surat Berantai". Dalam dunia FS (dan mungkin situs jejaring sosial yang lain seperti: Hi5, Facebook, Multiply, Divide, Add, dan Subtract) dan sebelumnya tersebar via surek (surat elektronik, bo, a.k.a. e-mail), dan sebelumnya lagi via sms sudah ada yang namanya surat berantai sejak beberapa tahun cahaya yang lalu. Ciri utama surat berantai ini adalah objek surat didahului [FWD] atau [TRS] yang tentu saja singkatan dari forward dan terusan (ya, toh?), jarang yang dengan rajinnya mengubah objek surat atau sekedar menghapus karakter-karakter yang diapit tanda kurung kotak tadi (apa namanya yah?). Motto surat semacam ini sangat sederhana, "forward dulu baru baca".
Nah ibarat surat berantai yang versi kertas, surek semacam ini juga tidak memiliki aura "inilah saya; ini kata-kata saya; saya berbicara dengan anda", seperti ketika membaca sebuah surat yang berbentuk foto kopian cuma diganti nama pengirimnya saja, satu kata, hambar. Hambar? Iya. Ketika membaca tulisan tangan seseorang atau setidaknya hasil ketikan dia (hasil pemikiran dia; susunan kata-kata yang khas dari dirinya) tentu sedikit banyak kita akan terbayang dirinya (cie...............), inilah yang disebut aura "inilah dia; inilah kata-katanya; dia berbicara dengan saya". Seperti Anda membaca blog ini pasti akan terbayang aura saya yang terlihat cerdas, tampan, baik hati, suka menabung terlihat dari susunan kata-kata yang luar biasa dari otak saya (*dengan gaya pambawa acara enterpreunership*). Tepuk tangan untuk akting saya yang jelek....
Oleh karena itu, setelah dijelaskan dengan panjang kali lebar sama dengan luas, kesoktahuan saya mengarahkan saya untuk tidak mengabaikan surat berantai yang saya terima. "Jika surat ini tidak disebarkan ke sepuluh alamat e-mail lainnya dalam jangka waktu satu jam, anda akan tertimpa kesialan....", atau "Sebarkanlah info ini ke sepuluh teman anda....", "kirimkan ke sepuluh nomor M3 lainnya dan anda akan mendapat pulsa gratis rp100.000, gratis!...." atau "tunjuk sepuluh blogger lain untuk memposting tema serupa....", sudah tidak mempan terhadap saya. Ya, sedikit pengakuan dari saya, ada beberapa e-mail yang saya forward juga, tentunya dengan pertimbangan tersendiri.
DISCLAIMER: Terlepas dari itu semua, saya tidak pernah membenci para penyebar surat berantai ataupun berniat untuk kampanye habis-habisan untuk menentang beredarnya surat berantai. Sedikit iseng-iseng masihlah termasuk hal yang lumrah.
Kembali ke soal "10 Fakta tentang Saya", dengan sedikit kebijaksanaan (apaan sih) saya sajikan (apa lagi?) dalam postingan saya kali ini yang tentu saja sudah saya paparkan dalam uraian di atas(ini juga!). Untuk mengingatkan, kita lihat lagi chart MTV Ampuh kali ini.
#1 Saya tidak suka membaca puisi dan membuat puisi karena memaksa saya untuk membangkitkan jiwa pujangga saya yang sedang hibernasi jauh di lubuk hati yang paling dalam.
#2 Saya suka mencampurblenderkan ngeblog dan menyusun laporan sehingga diksi dalam blog saya maupun laporan yang saya susun menjadi kacau.
#3 titikn0l adalah blog saya, memang belum dipatenkan tetapi tidak dianjurkan untuk meniru, percuma, ngga' laku.
#4 Saya suka membaca majalah MOP, bukan karena menjadi barometer gaul atau tidaknya seorang pelajar tetapi karena menjadi majalah yang paling banyak mengisi perpustakaan sekolah. (Coba bayangkan apabila anda mencoba kabur dari kelas yang kosong karena guru sedang rapat/sakit/mangkir *)coret yang tidak perlu dan anda menemukan tempat teraman dan bebas dari razia untuk nongkrong yaitu perpustakaan dan anda hanya menemukan buku Kalkulus, Klasifikasi Kingdom Hewan, dan majalah MOP, mana yang anda pilih?) Dulu, saya mengira MOP adalah singkatan dari Majalah Orang Pelajardan akhir-akhir ini berubah menjadi Madjalah Oentoek Peladjar. Mana yang benar itulah yang jadi misteri.
#5 Saya membaca majalah Si Kuncung dengan alasan yang serupa.
#6 Saya ingin terkenal tetapi tidak mau kawin-cerai-kawin-cerai terus sering ngancam-ngancam wartawan infotaimen yang selalu menekan saya untuk membuat pernyataan sehingga saya emosi dan mengeluarkan pistol punya saya terus saya diberitakan dengan keterangan sepihak bahwa saya telah mengintimidasi wartawan. Sekarang kalian tahu gunanya titik dan koma, kan?
#7 Saya tidak hobi merantaikan surat apalagi dari orang yang tidak dikenal.
#8 Saya punya Friendster, tentu saja sebagai jalan untuk terkenal tetapi apa daya, hall of fame itu semu semata. Saya punya cara baru untuk terkenal: ngeblog tapi gagal juga. Samson di film tuyul dan Mbak Yul: "Gagal maning..., gagal maning...."
#9 Saya bukan kanibal pemakan daging wanita muda, itu hanya ada dalam film mandarin murahan yang pernah saya tonton. Salah dia, bikin blog terus ketahuan polisi, eh ternyata polisinya kanibal juga jadi minta jatah juga. akhirnya polisi itu dibunuh (tetapi tidak dimakan, kan bukan wanita, sudah tua pula), bla...bla....
#10 Saya sangat sok tahu. Tentu saja keahlian ini sangat diperlukan dalam dunia politik yang tidak menentu ini. Sok-sok yang lain juga diperlukan, seperti: sok alim padahal suka godain sekretarisnya, sok bisa-meramalkan-kejadian-lima-tahun-mendatang padahal cuma tarif promo (baca juga dong tulisan yang kecil di pojok itu: syarat dan ketentuan berlaku), sok membela rakyat padahal lebih tepatnya memperjuangkan uang rakyat agar tidak masuk kantong orang lain, sok membasmi korupsi padahal kampanyenya penuh dengan politik uang, sok pintar padahal selalu nanya sama bawahan, sok taat hukum padahal selalu mencari celah hukum, dan sok-sok yang lain yang tidak dapat saya sebutkan satu persatu. Ingat, ini paragraf Deduktif jadi kalimat utamanya adalah kalimat pertama, saya cuma sok tahu, yang lain dikit-dikit ada sih tetapi tidak separah para pejabat.
Hehe.... utang lunas, sepuluh fakta telah diwahyukan dan dengan bijaksana saya tidak perlu menunjuk sepuluh blogger lain karena tidak sesuai dengan amanat Pembukan Undang-undang Dasar 1945 yang berbunyi (kalau belum berubah....): "kemerdekaan adalah hak segala bangsa...."
Akhir kata, saya ucapkan selamat kepada pembaca yang telah bertahan selama ini untuk membaca sampai kata-kata terakhir tanpa merasa mual.
Sabtu, 11 Oktober 2008
Jumat, 26 September 2008
Metal Bending
Itu yang bikin judul ngawur aja... *memukul-mukul kepala;frustasi* ... akibat dari kejar tayang redaktur blog (gayax ajax....).
Ya, kejadiannya kan pas bulan puasa jadi tidak punya banyak waktu untuk ngenet, lebih untuk kegiatan ibadah (tidur, buka bersama, ...) dan kerja (baca: datang agak telat, duduk diam, buka internet, ngegosip, ngerapel absen, pulang lebih awal).
Seperti kali ini, ada acara buka puasa bersama yang diadakan kantor. Yap, kantor, yang artinya pake duit kantor yang diambil dari anggaran negara dan bersumber dari pajak dari rakyat. Makan uang rakyat dong..., ya iya lah kan "dari rakyat(jelata) - oleh rakyat (yang jadi PNS rendahan) - untuk rakyat (yang jadipenjahat pejabat)"
Maafkan diriku wahai rakyat Indonesia (terutama yang bayar pajak), aktivis kampus, dan Kang Iwan Fals, memang beginilah Indonesia kita, masih promitif, masih pakai hukum rimba, yang kuatlobi dan jabatannya yang menang.
Kita tidak akan membicarakan politik, terlalu kahyangan buat makhluk bumi sepertiku. Kita bicara soal buka puasa bersama saja dan tentu saja kejadian yang menimpa belalang tempurku.
Detik-detik adzan maghrib semakin dekat, langit sudah mulai gelap, diriku masih berada dirumah (kost sweet home). Dengan persiapan seadanya, topeng pejabat penting dan artis terkenal kutinggalkan di kotak make up, cukup pake muka sendiri.
Jalan-jalan Kota Jambi kulalui dengan kecepatan yang tidak beretika. Maafkan diriku pak Polisi, para pengguna jalan (terutama yang bayar pajak), dan aktivis antiglobal warming (kan motornya bikin polusi).
Setengah jalan pertama, ruas-ruas jalan kulalui dengan mulus tanpa terdengar umpatan sedikitpun, dalam hal ini helm sangat membantu. Kejadian naas itupun terjadi setelah mencapai 2/3 perjalanan. Oknum pengemudi motor masuk pertigaan dari ruas jalan sebelah kiri dengan kecepatan yang tidak kalah ugal-ugalannya. Selama beberapa puluh ribu nanodetik sebelum tumbukan, saya berhasil membelokkan arah kemudi beberapa derajat untuk menghindari tumbukan, lawan main juga melakukan hal yang sama. Beruntung tumbukan tidak terjadi sehingga rumus hukum kekekalan momentum tidak dapat digunakan, cukup pake rumus gaya gesek untuk menghitung kerusakan yang terjadi akibat serempetan (Bahasa indonesianya apa ya?).
Teringat Kstaria Baja Hitam yang untuk selanjutnya disebut KBH RX ketika melawan lawannya (ya iya lah..., kalo sama teman namanya berteman) yang sama-sama berkendara motor. Kedua-dua selalu menyerang dengan motor melayang dan berserempetan di udara. Ya, serempetan, tidak pernah terjadi tumbukan, hanya serempetan, tentu saja disertai efek percikan api agar lebih mantap. Kali ini tidak ada percikan api dan tidak ada motor melayang tapi beruntung di antara kami tidak ada yang terjatuh.
Kerugian yang tercatat adalah bengkoknya step (baca: pijakan kaki) dan beberapa cc adrenalin yang muncrat sia-sia. Jadi bukan karena ada pengendali tanah dari Negara Tanah yang membengkokkan step belalang tempur saya. Untuk meluruskan kembali cukup dengan sentuhan pemilik bengkel terdekat, ya pasti bayar lah.
Malam itu, Senin tanggal 22 September 2008 saya berhasil menghadiri buka puasa bersama dengan selamat. Makanya jangan terburu-buru kalo ada barang gratisan....
Ya, kejadiannya kan pas bulan puasa jadi tidak punya banyak waktu untuk ngenet, lebih untuk kegiatan ibadah (tidur, buka bersama, ...) dan kerja (baca: datang agak telat, duduk diam, buka internet, ngegosip, ngerapel absen, pulang lebih awal).
Seperti kali ini, ada acara buka puasa bersama yang diadakan kantor. Yap, kantor, yang artinya pake duit kantor yang diambil dari anggaran negara dan bersumber dari pajak dari rakyat. Makan uang rakyat dong..., ya iya lah kan "dari rakyat(jelata) - oleh rakyat (yang jadi PNS rendahan) - untuk rakyat (yang jadi
Maafkan diriku wahai rakyat Indonesia (terutama yang bayar pajak), aktivis kampus, dan Kang Iwan Fals, memang beginilah Indonesia kita, masih promitif, masih pakai hukum rimba, yang kuat
Kita tidak akan membicarakan politik, terlalu kahyangan buat makhluk bumi sepertiku. Kita bicara soal buka puasa bersama saja dan tentu saja kejadian yang menimpa belalang tempurku.
Detik-detik adzan maghrib semakin dekat, langit sudah mulai gelap, diriku masih berada dirumah (kost sweet home). Dengan persiapan seadanya, topeng pejabat penting dan artis terkenal kutinggalkan di kotak make up, cukup pake muka sendiri.
Jalan-jalan Kota Jambi kulalui dengan kecepatan yang tidak beretika. Maafkan diriku pak Polisi, para pengguna jalan (terutama yang bayar pajak), dan aktivis antiglobal warming (kan motornya bikin polusi).
Setengah jalan pertama, ruas-ruas jalan kulalui dengan mulus tanpa terdengar umpatan sedikitpun, dalam hal ini helm sangat membantu. Kejadian naas itupun terjadi setelah mencapai 2/3 perjalanan. Oknum pengemudi motor masuk pertigaan dari ruas jalan sebelah kiri dengan kecepatan yang tidak kalah ugal-ugalannya. Selama beberapa puluh ribu nanodetik sebelum tumbukan, saya berhasil membelokkan arah kemudi beberapa derajat untuk menghindari tumbukan, lawan main juga melakukan hal yang sama. Beruntung tumbukan tidak terjadi sehingga rumus hukum kekekalan momentum tidak dapat digunakan, cukup pake rumus gaya gesek untuk menghitung kerusakan yang terjadi akibat serempetan (Bahasa indonesianya apa ya?).
Teringat Kstaria Baja Hitam yang untuk selanjutnya disebut KBH RX ketika melawan lawannya (ya iya lah..., kalo sama teman namanya berteman) yang sama-sama berkendara motor. Kedua-dua selalu menyerang dengan motor melayang dan berserempetan di udara. Ya, serempetan, tidak pernah terjadi tumbukan, hanya serempetan, tentu saja disertai efek percikan api agar lebih mantap. Kali ini tidak ada percikan api dan tidak ada motor melayang tapi beruntung di antara kami tidak ada yang terjatuh.
Kerugian yang tercatat adalah bengkoknya step (baca: pijakan kaki) dan beberapa cc adrenalin yang muncrat sia-sia. Jadi bukan karena ada pengendali tanah dari Negara Tanah yang membengkokkan step belalang tempur saya. Untuk meluruskan kembali cukup dengan sentuhan pemilik bengkel terdekat, ya pasti bayar lah.
Malam itu, Senin tanggal 22 September 2008 saya berhasil menghadiri buka puasa bersama dengan selamat. Makanya jangan terburu-buru kalo ada barang gratisan....
Selasa, 16 September 2008
Inisiasi
Hari ini, 13 September 2008,....
I'll Be Allrightnya Anggun berdering dari hapeku. Pagi-pagi puasa sudah ada yang telepon.
Rupanya Abang Ferhad (AF), "Zhar, aku sudah di depan rumah," katanya. Dengan tenaga yang ada diriku segera bangkit menyambut tamu spesial dan segera bertolak ke Mendalo diFilipina di Muara Jambi sana.
Sehari yang lalu, Jumat, 12 September 2008,....
"asmkm, zhar, bsok brkt jam brapa?," sms dari AF kuterima. "Kalo bs pagi sblm jam7.poto dah dicetak ni," balesku.
Beberapa saat sebelumnya....
"Mbak, minta cetak masing-masing 2x3 sepuluh kali sama 3x4 sepuluh kali," pintaku (cieeh, diksinya) sambil menyerahkan flashdisk.
ABG-lumayan-cakep-penjaga-konter-hape-sekaligus-cetak-foto-digital: "...."
"Mbak, minta cetak masing-masing 2x3 sepuluh kali sama 3x4 sepuluh kali," kataku, copy-paste dari kalimat di atas.
ABG-lumayan-cakep-penjaga-konter-hape-sekaligus-cetak-foto-digital: "Apa, Bang?"
"Mbak, minta cetak masing-masing 2x3 sepuluh kali sama 3x4 sepuluh kali," menekan ctrl+v untuk kedua kalinya, "ini cetak sepuluh...."
ABG-lumayan-cakep-penjaga-konter-hape-sekaligus-cetak-foto-digital: "Ooh... sepuluh lembar?"
"Ya...," mulutku, "cakep-cakep kok tulalit," otakku.
Sinetron ini dilanjutkan dengan adegan tidak penting di mana ABG-lumayan-cakep-penjaga-konter-hape-sekaligus-cetak-foto-digital tersebut rupanya kurang mumpuni menangani Adobe Photoshop yang memang didesain untuk profesional dan kemudian diriku berpindah konter dengan penjaga yang lumayan cakep juga tetapi sudah agak dewasa. Sedikit pelajaran hari ini, ternyata ada korelasi antara kedewasaan dan kemampuan menggunakan perangkat lunak... (ga penting ya....)
Lima hari yang lalu, Senin, 8 September 2008,....
"Kurang ajar," Aji melepaskan kekesalannya dengan diksi yang salah, "Masa aku coba transfer di BRI kota sini kata tellernya nama pemilik rekeningnya salah. Berarti pemilik rekening-rekening itu bukan Rektor dan Dekan Universitas Jambi (untuk selanjutnya disebut Unja), dong. Unja memang licik."
"Jadi harus transfer di BRI deket kampus Unja sana, dong. Sekalian aku nitip transfer ya...."
Rabu
, 10 September 2008, sore hari,....
Aji Melapor. Rupanya, BRI di kampus Unja belum online jadi tidak ketahuan pemilik rekening sebenarnya yang mengaku sebagai dekan/rektor tersebut. Bisa saja Mbah Marijan, Al Amin Nasution, Dewi Perssik, atau artis-artis lainnya. Setiap slip transfer hanya dicap dan tanda tangan petugas bank. Sungguh dosa besar dalam dunia Sistem Pengendalian Intern.
Dengan demikian secara resmi saya sudah membayar uang pembangunan, uang kemahasiswaan, dan apapun itu sebagai mahasiswa baru Program Ekstensi Fakultas Ekonomi Jurusan Akuntansi, akreditasi N/A (terpaksa tidak ada yang lebih bermutu di Kota Jambi ini).
Sabtu, 13 September 2008, hari terakhir batas waktu registrasi mahasiswa baru...
Semua terlihat normal dan terrencana, berkas-berkas telah disiapkan. Pengambilan formulir registrasi tidaklah terlalu bermasalah. Dalam hal ini pungli Rp1.000,00 perorang tidak dipermasalahkan. Pelayanan satu pintu sangat diagungkan, semua mahasiswa berjubel di satu loket, sungguh pemandangan yang tidak luar biasa di Indonesia. Banyak yang tidak membawa persyaratan lengkap karena minimnya informasi. Dalam pengumuman disebutkan cukup membawa slip transfer untuk mengambil formulir registrasi ternyata harus membawa foto kopi ijazah dan pas foto 3x4 dua lembar. Diriku aman, semua sudah disiapkan berkat info yang akurat dari Riski, teman kantor yang lebih dahulu sudah melakukan registrasi.
Hal yang perlu dilakukan selanjutnya adalah mengisi formulir. Rupanya ada empat lembar formulir yang harus diisi, dan tiga di anataranya harus ditempel pas foto beralmamater Unja. Masalah almamater ini sudah diselesaikan secara jantan.
Kamis, 11 September 2008
Berdasarkan informasi dari Riski, untuk mengambil jaket almamater Unja, diperlukan bukti pengambilan registrasi DAN HASIL TES URINE. Persyaratan yang kedua menjadi masalah karena tidak pernah disosialisasikan sejak awal dan tidak ada dasar hukum yang jelas apakah itu Undang-undang Dasar, Undang-undang, Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-undang, Peraturan Pemerintah, ataupun Keputusan Rektor atau Dekan, atau apapun yang bisa dijadikan dasar. Tanpa adanya hasil tes urine jaket almamater tidak dapat diambil. Tanpa Jaket almamater tidak bisa foto dengan menggunakan jaket almamater. Tanpa pas foto berjaket almamater tidak dapat mengisi formulir registrasi. Jadi ingat rantai makanan....
Riski dengan sedikit usaha dapat meminjam jaket almamater kepada Pipit, oknum mahasiswa baru yang dengan patuhnya menjalankan tes urine. Lebih tidak bermoralmodal lagi, diriku bersama dua oknum lainnya menempuh jalur lebih singkat. Dalam hal ini Photoshop bajakan sangatlah berguna, cukup menindih kepala Riski dengan kepala kami, jadilah foto kami beralmamater, tinggal dicetak massal.
Kembali ke hari ini, 13 September 2008,....
Pengisian formulir registrasi berlangsung efisien, pensil 2B pinjam, lem minta, sungguh irit. Pengisian biodata tidak seifisien yang diperkirakan, ada formulir yang manual dan ada formulir yang menggunakan pensil 2B, merepotkan. Total pas foto yang harus ditempelkan sudah tidak terhitung lagi (hiperbolik banget). Tetapi semua dapat diatasi, semua disatukan dan dimasukkan dalam map.
Loket sudah semakin padat, absurd, tidak ada yang mengatur antrian sehingga tentu saja alih-alih terdapat antrian yang ada adalah kerubutan (turut berduka cita atas kejadian pembagian zakat di Pasuruan). Dengan gerakan yang efisien diriku berhasil meletakkan map punya saya di mulut loket, licik yah. Licik itu relatif, jika semua melakukan hal yang sama berarti cukup adil.
Map masuk ke dalam dan melewati proses yang panjang dan melelahkan di tangan petugas. Formulir yang di rapihkan kemudian dipisahkan mana yang untuk kampus mana yang untuk bank kemudian salah satu bagian dikembalikan sebagai kartu mahasiswa sementara. Ternyata map punya saya tidak melewati proses yang semestinya karena kurang satu dokumen yaitu foto kopi ijazah. Ya ampuun, sudah berapa kali diriku menyerahkan ijazah ke mereka? Sekali ketika pendaftaran awal sebelum matrikulasi, kedua hari ini saat pengambilan formulir registrasi, dan masih harus menyerahkan untuk ketiga kalinya, hattrick dong.
Hal ini menjadi sangat bermasalah karena:
1. Saya tidak menyimpan ijazah asli. Ijazah asli masih tersimpan di suatu ruangan di STAN sana. Maklum, ikatan dinas, jadi biar tidak kabur ijazah ditahan dulu dan hanya diberi tiga foto kopian yang sudah dilegalisasi.
2. Dari tiga lembar foto kopi ijazah dua lembar di antaranya sudah berpindah tangan ke Unja,
3. Foto kopi ijazah terakhir saya simpan di filling kabinet di kantor dan dikunci.
4. Kunci filing kabinet saya simpan di rumah.
5. Posisi saya sekarang adalah di kampus Unja.
Dengan gerakan a la Valentino Rossi yang kebelet pipis, saya segera melakukan tindakan semestinya. Singkat kata singkat cerita, foto kopi ijazah sudah di tangan. Untuk antisipasi apabila suatu hari saya memerlukan ijazah saya, saya harus menyimpan salinannya. Saya memutuskan untuk melakukan pemindaian.
Permasalahan selanjutnya:
1. Scanner berada di ruang Subbagian Hukum dan Humas yang dikunci,
2. Kunci ruangan dipegang satpam;
3. Satpam yang bersangkutan yang seharusnya standby ternyata tidak di tempat dan beredar entah ke mana, terpaksa harus mencari kunci ruangan di meja satpam,
4. Jumlah kunci ruangan sangat banyak dan semuanya berbentuk sama, harus dicoba satu persatu.
Akhirnya perjuanganpun dimulai. Dengan kemampuan supranatural saya yang memang tidak natural saya mencoba menebak kunci mana yang digunakan untuk membuka ruangan. Berhasil! Berhasil saudara-saudara, setelah percobaan kesembilan saya berhasil menebak kunci yang benar. Adegan selanjutnya sama sekali tidak memiliki unsur mistis, ijazah yang sudah berbentuk kopian saya scan dan disimpan dalam harddisk.
Pikiran jahat saya:
Jika suatu saat saya memerlukan ijazah saya, misalnya seorang penjual nasi uduk tidak percaya saya berhasilluluslolos STAN dan saya harus menunjukkan foto kopi ijazah yang sudah dilegalisasi, atau sekadar pamer kepada calon mertua, saya harus mencetak ijazah saya dengan printer warna sehingga stempel "sesuai dengan aslinya" terlihat berwarna biru dan terkesan stempel asli.
Setelah melaksanakan apa yang diperlukan, dengan semangat a la Valentino Rossi saya memacu motor Yamaha saya. Kali ini Bang Rossi kebelet boker dan satu-satunya WC yang terdekat adalah di kampus Unja.
Setelah berfikir 999 kali, saya berfikir sekali lagi dan memutuskan untuk tetap menyimpan foto kopi ijazah dengan stempel legalisasi asli dan menyerahkan ijazah hasil cetakan yang mirip dengan foto kopi ijazah dengan stempel legalisasi asli.
Dengan banyaknya mahasiswa baru yang melakukan registrasi, map saya berhasil lolos dan dikembalikan dengan form Kartu Rencana Studi beserta Kartu Mahasiswa Sementara. Hari ini cukup sekian, pengurusan KRS dimulai tanggal 19 September 2008 nanti.
Dosa saya hari ini:
1. Mengata-ngatai Unja yang lambat dan semrawut (ups, saya melakukannya lagi);
2. Memalsukan legalisasi salinan ijazah (bukan memalsukan ijazah atau jangan-jangan sebenarnya tidak ada ijazah yang asli dan saya tidak mengetahuinya). Ijazah asli saja bisa dipalsukan apalgi sekadar salinannya. Tanggal kadaluarsa saja bisa diganti, makanan sisa saja bisa diolah kembali, anggaran negara saja bisa dinego, nomor urut caleg saja bisa dipesan, bla...bla...bla....
3. Menggunakan nama Valentino Rossi tanpa membayar royalti;
4. Tidak mendukung Gerakan Disiplin Nasional dengan menyerobot menjejalkan map di mulut loket (sekali lagi, licik itu relatif);
5. Dengan sengaja tidak melakukan tes bebas narkoba, menghemat Rp120.000,00 tetapi rugi lebih besar karena tidak dapat mengambil jaket almamater yang sudah saya bayar sejak awal. Walaupun tidak dapat dijerat secara hukum tetapi dengan demikian saya tidak menunjukkan itikad baik.
I'll Be Allrightnya Anggun berdering dari hapeku. Pagi-pagi puasa sudah ada yang telepon.
Rupanya Abang Ferhad (AF), "Zhar, aku sudah di depan rumah," katanya. Dengan tenaga yang ada diriku segera bangkit menyambut tamu spesial dan segera bertolak ke Mendalo di
Sehari yang lalu, Jumat, 12 September 2008,....
"asmkm, zhar, bsok brkt jam brapa?," sms dari AF kuterima. "Kalo bs pagi sblm jam7.poto dah dicetak ni," balesku.
Beberapa saat sebelumnya....
"Mbak, minta cetak masing-masing 2x3 sepuluh kali sama 3x4 sepuluh kali," pintaku (cieeh, diksinya) sambil menyerahkan flashdisk.
ABG-lumayan-cakep-penjaga-konter-hape-sekaligus-cetak-foto-digital: "...."
"Mbak, minta cetak masing-masing 2x3 sepuluh kali sama 3x4 sepuluh kali," kataku, copy-paste dari kalimat di atas.
ABG-lumayan-cakep-penjaga-konter-hape-sekaligus-cetak-foto-digital: "Apa, Bang?"
"Mbak, minta cetak masing-masing 2x3 sepuluh kali sama 3x4 sepuluh kali," menekan ctrl+v untuk kedua kalinya, "ini cetak sepuluh...."
ABG-lumayan-cakep-penjaga-konter-hape-sekaligus-cetak-foto-digital: "Ooh... sepuluh lembar?"
"Ya...," mulutku, "cakep-cakep kok tulalit," otakku.
Sinetron ini dilanjutkan dengan adegan tidak penting di mana ABG-lumayan-cakep-penjaga-konter-hape-sekaligus-cetak-foto-digital tersebut rupanya kurang mumpuni menangani Adobe Photoshop yang memang didesain untuk profesional dan kemudian diriku berpindah konter dengan penjaga yang lumayan cakep juga tetapi sudah agak dewasa. Sedikit pelajaran hari ini, ternyata ada korelasi antara kedewasaan dan kemampuan menggunakan perangkat lunak... (ga penting ya....)
Lima hari yang lalu, Senin, 8 September 2008,....
"Kurang ajar," Aji melepaskan kekesalannya dengan diksi yang salah, "Masa aku coba transfer di BRI kota sini kata tellernya nama pemilik rekeningnya salah. Berarti pemilik rekening-rekening itu bukan Rektor dan Dekan Universitas Jambi (untuk selanjutnya disebut Unja), dong. Unja memang licik."
"Jadi harus transfer di BRI deket kampus Unja sana, dong. Sekalian aku nitip transfer ya...."
Rabu
, 10 September 2008, sore hari,....
Aji Melapor. Rupanya, BRI di kampus Unja belum online jadi tidak ketahuan pemilik rekening sebenarnya yang mengaku sebagai dekan/rektor tersebut. Bisa saja Mbah Marijan, Al Amin Nasution, Dewi Perssik, atau artis-artis lainnya. Setiap slip transfer hanya dicap dan tanda tangan petugas bank. Sungguh dosa besar dalam dunia Sistem Pengendalian Intern.
Dengan demikian secara resmi saya sudah membayar uang pembangunan, uang kemahasiswaan, dan apapun itu sebagai mahasiswa baru Program Ekstensi Fakultas Ekonomi Jurusan Akuntansi, akreditasi N/A (terpaksa tidak ada yang lebih bermutu di Kota Jambi ini).
Sabtu, 13 September 2008, hari terakhir batas waktu registrasi mahasiswa baru...
Semua terlihat normal dan terrencana, berkas-berkas telah disiapkan. Pengambilan formulir registrasi tidaklah terlalu bermasalah. Dalam hal ini pungli Rp1.000,00 perorang tidak dipermasalahkan. Pelayanan satu pintu sangat diagungkan, semua mahasiswa berjubel di satu loket, sungguh pemandangan yang tidak luar biasa di Indonesia. Banyak yang tidak membawa persyaratan lengkap karena minimnya informasi. Dalam pengumuman disebutkan cukup membawa slip transfer untuk mengambil formulir registrasi ternyata harus membawa foto kopi ijazah dan pas foto 3x4 dua lembar. Diriku aman, semua sudah disiapkan berkat info yang akurat dari Riski, teman kantor yang lebih dahulu sudah melakukan registrasi.
Hal yang perlu dilakukan selanjutnya adalah mengisi formulir. Rupanya ada empat lembar formulir yang harus diisi, dan tiga di anataranya harus ditempel pas foto beralmamater Unja. Masalah almamater ini sudah diselesaikan secara jantan.
Kamis, 11 September 2008
Berdasarkan informasi dari Riski, untuk mengambil jaket almamater Unja, diperlukan bukti pengambilan registrasi DAN HASIL TES URINE. Persyaratan yang kedua menjadi masalah karena tidak pernah disosialisasikan sejak awal dan tidak ada dasar hukum yang jelas apakah itu Undang-undang Dasar, Undang-undang, Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-undang, Peraturan Pemerintah, ataupun Keputusan Rektor atau Dekan, atau apapun yang bisa dijadikan dasar. Tanpa adanya hasil tes urine jaket almamater tidak dapat diambil. Tanpa Jaket almamater tidak bisa foto dengan menggunakan jaket almamater. Tanpa pas foto berjaket almamater tidak dapat mengisi formulir registrasi. Jadi ingat rantai makanan....
Riski dengan sedikit usaha dapat meminjam jaket almamater kepada Pipit, oknum mahasiswa baru yang dengan patuhnya menjalankan tes urine. Lebih tidak ber
Kembali ke hari ini, 13 September 2008,....
Pengisian formulir registrasi berlangsung efisien, pensil 2B pinjam, lem minta, sungguh irit. Pengisian biodata tidak seifisien yang diperkirakan, ada formulir yang manual dan ada formulir yang menggunakan pensil 2B, merepotkan. Total pas foto yang harus ditempelkan sudah tidak terhitung lagi (hiperbolik banget). Tetapi semua dapat diatasi, semua disatukan dan dimasukkan dalam map.
Loket sudah semakin padat, absurd, tidak ada yang mengatur antrian sehingga tentu saja alih-alih terdapat antrian yang ada adalah kerubutan (turut berduka cita atas kejadian pembagian zakat di Pasuruan). Dengan gerakan yang efisien diriku berhasil meletakkan map punya saya di mulut loket, licik yah. Licik itu relatif, jika semua melakukan hal yang sama berarti cukup adil.
Map masuk ke dalam dan melewati proses yang panjang dan melelahkan di tangan petugas. Formulir yang di rapihkan kemudian dipisahkan mana yang untuk kampus mana yang untuk bank kemudian salah satu bagian dikembalikan sebagai kartu mahasiswa sementara. Ternyata map punya saya tidak melewati proses yang semestinya karena kurang satu dokumen yaitu foto kopi ijazah. Ya ampuun, sudah berapa kali diriku menyerahkan ijazah ke mereka? Sekali ketika pendaftaran awal sebelum matrikulasi, kedua hari ini saat pengambilan formulir registrasi, dan masih harus menyerahkan untuk ketiga kalinya, hattrick dong.
Hal ini menjadi sangat bermasalah karena:
1. Saya tidak menyimpan ijazah asli. Ijazah asli masih tersimpan di suatu ruangan di STAN sana. Maklum, ikatan dinas, jadi biar tidak kabur ijazah ditahan dulu dan hanya diberi tiga foto kopian yang sudah dilegalisasi.
2. Dari tiga lembar foto kopi ijazah dua lembar di antaranya sudah berpindah tangan ke Unja,
3. Foto kopi ijazah terakhir saya simpan di filling kabinet di kantor dan dikunci.
4. Kunci filing kabinet saya simpan di rumah.
5. Posisi saya sekarang adalah di kampus Unja.
Dengan gerakan a la Valentino Rossi yang kebelet pipis, saya segera melakukan tindakan semestinya. Singkat kata singkat cerita, foto kopi ijazah sudah di tangan. Untuk antisipasi apabila suatu hari saya memerlukan ijazah saya, saya harus menyimpan salinannya. Saya memutuskan untuk melakukan pemindaian.
Permasalahan selanjutnya:
1. Scanner berada di ruang Subbagian Hukum dan Humas yang dikunci,
2. Kunci ruangan dipegang satpam;
3. Satpam yang bersangkutan yang seharusnya standby ternyata tidak di tempat dan beredar entah ke mana, terpaksa harus mencari kunci ruangan di meja satpam,
4. Jumlah kunci ruangan sangat banyak dan semuanya berbentuk sama, harus dicoba satu persatu.
Akhirnya perjuanganpun dimulai. Dengan kemampuan supranatural saya yang memang tidak natural saya mencoba menebak kunci mana yang digunakan untuk membuka ruangan. Berhasil! Berhasil saudara-saudara, setelah percobaan kesembilan saya berhasil menebak kunci yang benar. Adegan selanjutnya sama sekali tidak memiliki unsur mistis, ijazah yang sudah berbentuk kopian saya scan dan disimpan dalam harddisk.
Pikiran jahat saya:
Jika suatu saat saya memerlukan ijazah saya, misalnya seorang penjual nasi uduk tidak percaya saya berhasil
Setelah melaksanakan apa yang diperlukan, dengan semangat a la Valentino Rossi saya memacu motor Yamaha saya. Kali ini Bang Rossi kebelet boker dan satu-satunya WC yang terdekat adalah di kampus Unja.
Setelah berfikir 999 kali, saya berfikir sekali lagi dan memutuskan untuk tetap menyimpan foto kopi ijazah dengan stempel legalisasi asli dan menyerahkan ijazah hasil cetakan yang mirip dengan foto kopi ijazah dengan stempel legalisasi asli.
Dengan banyaknya mahasiswa baru yang melakukan registrasi, map saya berhasil lolos dan dikembalikan dengan form Kartu Rencana Studi beserta Kartu Mahasiswa Sementara. Hari ini cukup sekian, pengurusan KRS dimulai tanggal 19 September 2008 nanti.
Dosa saya hari ini:
1. Mengata-ngatai Unja yang lambat dan semrawut (ups, saya melakukannya lagi);
2. Memalsukan legalisasi salinan ijazah (bukan memalsukan ijazah atau jangan-jangan sebenarnya tidak ada ijazah yang asli dan saya tidak mengetahuinya). Ijazah asli saja bisa dipalsukan apalgi sekadar salinannya. Tanggal kadaluarsa saja bisa diganti, makanan sisa saja bisa diolah kembali, anggaran negara saja bisa dinego, nomor urut caleg saja bisa dipesan, bla...bla...bla....
3. Menggunakan nama Valentino Rossi tanpa membayar royalti;
4. Tidak mendukung Gerakan Disiplin Nasional dengan menyerobot menjejalkan map di mulut loket (sekali lagi, licik itu relatif);
5. Dengan sengaja tidak melakukan tes bebas narkoba, menghemat Rp120.000,00 tetapi rugi lebih besar karena tidak dapat mengambil jaket almamater yang sudah saya bayar sejak awal. Walaupun tidak dapat dijerat secara hukum tetapi dengan demikian saya tidak menunjukkan itikad baik.
Minggu, 07 September 2008
Krisis Privasi
Belalang tempurku melaju dengan kecepatan yang masih wajar (emang bisa melaju dengan kecepatan cahaya...?). Sejenak menoleh ke arah kanan jalan, Hau's Tea, salah satu restoran semi modern di Jambi, menjadi pusat perhatianku walau untuk sesaat.
Puasa-puasa begini memang penuh godaan, makanan misalnya (namanya juga puasa). Namun, godaan terhadap makanan tidaklah fatal karena seekstrim apapun dirimu membayangkan makanan dalam otakmu sampai air liur memuncratpun tidak akan membatalkan puasa. Coba godaan yang lain, menggunjing, berkata bohong, berpikir mesum, misalnya, susah dihindari dan kadang secara tidak sadar (baca: naluriah; reflek) kita melakukannya. Walaupun officially tidak membatalkan puasa, perbuatan-perbuatan remeh tersebut dapat menghilangkan makna dan pahala puasa. Kok jadi sok religius begini yah....
Sebenarnya yang menjadi perhatian utama sepersekian detik tersebut adalah tirai penutup jendela yang menghalangi akses orang di luar untuk melihat oknum-oknum yang sedang menikmati makanan di saat orang lain berpuasa. Menurut saya, tujuan utama pemasangan tirai tersebut menjadi bias antara sebagai bentuk toleransi terhadap orang yang berpuasa dan sebagai perlindungan terhadap identitas muslim yang meninggalkan kewajiban berpuasa. Lebih lagi, orang yang secara legal tidak berpuasa (orang yang beragama selain islam, maksudnya) akan merasa tidak nyaman dengan kondisi rumah makan/restoran yang tertutup.
Mbok yo jangan cuma rumah makan yang ditutup-tutupi, paha-paha dan aurat lainnya juga harus disembunyikan, they're bothering me.....
Met puasa ya....
Puasa-puasa begini memang penuh godaan, makanan misalnya (namanya juga puasa). Namun, godaan terhadap makanan tidaklah fatal karena seekstrim apapun dirimu membayangkan makanan dalam otakmu sampai air liur memuncratpun tidak akan membatalkan puasa. Coba godaan yang lain, menggunjing, berkata bohong, berpikir mesum, misalnya, susah dihindari dan kadang secara tidak sadar (baca: naluriah; reflek) kita melakukannya. Walaupun officially tidak membatalkan puasa, perbuatan-perbuatan remeh tersebut dapat menghilangkan makna dan pahala puasa. Kok jadi sok religius begini yah....
Sebenarnya yang menjadi perhatian utama sepersekian detik tersebut adalah tirai penutup jendela yang menghalangi akses orang di luar untuk melihat oknum-oknum yang sedang menikmati makanan di saat orang lain berpuasa. Menurut saya, tujuan utama pemasangan tirai tersebut menjadi bias antara sebagai bentuk toleransi terhadap orang yang berpuasa dan sebagai perlindungan terhadap identitas muslim yang meninggalkan kewajiban berpuasa. Lebih lagi, orang yang secara legal tidak berpuasa (orang yang beragama selain islam, maksudnya) akan merasa tidak nyaman dengan kondisi rumah makan/restoran yang tertutup.
Mbok yo jangan cuma rumah makan yang ditutup-tutupi, paha-paha dan aurat lainnya juga harus disembunyikan, they're bothering me.....
Met puasa ya....
Rabu, 03 September 2008
Bekerja Adalah Ibadah
Nuhun... kang Komtabel
Langganan:
Postingan (Atom)

