Tipu muslihat seputar ujian akhir nasional (UAN) akhir-akhir ini menjadi bahan pembicaraan yang terlalu hot untuk hanya sekedar info biasa. Memang kecurangan-kecurangan yang terjadi - sebut saja 'kebocoran soal' sebagai contoh - sudah menjadi langganan dari tahun-tahun sebelumnya (dan sebelumnya, sebelumnya lagi, dan sebelumnya semenjak ujian semacamnya ada pertama kali) tetapi akhir-akhir ini bau asapnya semakin menusuk hidung sehingga semakin banyak yang terungkap dan muncul ke media.
Salah satu penyebabnya adalah standar nilai kelulusan yang semakin tinggi dan mengkhawatirkan bagi banyak siswa yang memiliki prestasi pas-pasan (atau di bawah pas-pasan). Dengan semangat keputusasaan, banyak calon calon-sarjana (belum lulus SMA dan belum masuk kuliah) yang menempuh jalan pintas dengan "membeli" kunci jawaban kepada oknum yang tentunya mempunyai akses ke soal ujian.
Jumlah uang yang dikeluarkanpun tidak sedikit. Sebut saja nilai enam juta rupiah, sebuah nominal yang cukup besar (tetapi relatif sangat kecil dibandingkan uang yang hilang karena harus menunggu ujian susulan tahun depan; dengan asumsi kunci jawaban tersebut akurat, sang siswa dapat lulus SMA dan kuliah tepat waktu, serta mendapat pekerjaan) untuk untuk serangkaian kunci jawaban ilegal yang dikirimkan oleh 'nara sumber' via sms beberapa jam sebelum ujian berlangsung (saya menonton Reportase Investigatif Sabtu kemarin). Sayang, acara yang sarat kamera tersembunyi tersebut tidak mengungkapkan kekuratan kunci jawaban yang diperoleh (just wondering).
Tidak hanya siswa curang dan oknum laknat pembocor kunci jawaban yang menjadi tokoh jahat di sini, dewan guru dan segenap staf sekolahpun menjadi pemeran antagonis yang juga memegang peran dalam lingkaran mafia. Dengan segala cara, mereka 'membantu' siswanya agar dapat lulus (atau sekedar lolos?) UAN yang mengerikan. Sebut saja memberikan kunci jawaban dan memberikan tips-tips mencontek yang baik, sebuah daftar kejahatan yang berkopkan kebaikan. Beberapa tenaga pendidik beserta kepala sekolahpun beberapa waktu yang lalu berhasil masuk tivi karena tertangkapbasah sedang memodifikasi lembar jawaban siswa. Sungguh, itikad baik Departemen Pendidikan Nasional untuk mencerdaskan kehidupan bangsa lewat standardisasi nilai UAN telah dikhianati sampai ke akar-akarnya.
"Kalau mereka tidak lulus, kan kasihan," ungkap seorang kepala sekolah yang dimozaik mukanya dan dibaskan suaranya dalam acara stasiun tivi swasta yang saya sebut di paragraf tiga di atas. Benarkah demikian alasan mereka? Bukan, Bapak-bapak dan Ibu-ibu, tidak setulus itu mereka berbuat kejahatan.
Kinerja, sebuah isu yang mulai menghangat di kalangan instansi pemerintahan. Sebut saja 'anggaran berbasis kinerja' yang dirilis dengan Undang-undang No. 17 tahun 2005 tentang Keuangan Negara ;menggantikan 'anggaran berimbang' buatan orde baru yang berhasil menyembunyikan trilyunan hutang negara selama puluhan tahun dan 'Pemeriksaan Kinerja' yang menjadi tugas baru BPK sesuai amanat UU No. 15 tahun 2007 tentang Badan Pemeriksa Keuangan. 'Kinerja' sangatlah erat dengan ekonomis-efisien-efektif (3E) yang tersohor itu. Khusus dalam hal keefektifan, indikator apa lagi yang bersifat kuantitatif mengenai keberhasilan pendidikan selain 'persentase siswa yang lulus'?
Anda benar sekali, banyaknya siswa yang lulus menunjukkan tingkat kinerja sekolah (segenap staf, guru, dan kepala sekolah) dalam mendidik siswanya. Kinerja yang baik menjanjikan keuntungan material yang menggiurkan - mendapat nominal bantuan yang lebih besar, promosi yang lebih baik bagi segenap guru dan kepala sekolah, kesan yang baik dari masyarakat -, serentetan prestasi (yang sangat) semu bagi pihak sekolah yang dengan tega mempertaruhkan masa depan siswanya (coba kalau ada siswa yang tertangkap basah mencontek atau kelulusan mereka ditunda karena UAN harus diulang sebagai akibat kecurangan yang dilakukan pada saat pelaksanaan). Sudah gitu, para siswa malah merasa diuntungkan. Mereka jahat sekali yah.
Penelusuran google
Minggu, 27 April 2008
Rabu, 16 April 2008
Minggu, 16 Maret 2008
Bukan Hanya PNS Saja ...
... main game saat bekerja.
Keluar Jalur
Sebagai pemuja otodidak, saya beranggapan hampir semua hal dapat dipelajari sendiri walaupun hasil yang diperoleh tidak secepat dan sebagus jika menggunakan metode yang sidah terstruktur (kuliah, kursus, atau les).
Sebagai penggemar serial Naruto, saya bertekad untuk mempelajari jurus-jurus ninja yang dipraktekkan para shinobi.
Dasar dari ninja adalah menyusup dan sabotase. Duel satu lawan satu dan bunuh diri ketika gagal seperti yang dilakukan para samurai adalah sesuatu yang tidak diperlukan. Tipu muslihat sangatlah efektif untuk menghancurkan lawan. Ketika terdesak, kabur dan menghilang adalah jalan terbaik.
Sebelum bergerak, pastikan perimeter aman.

Kadang ninja harus bergerak dengan posisi ekstrim untuk menghindari ranjau dan jebakan lainnya.

Memanjat sangat efektif untuk menerobos benteng musuh.

Terkadang penjaga lebih waspada sehingga terpaksa harus dihadapi dalam posisi sulit sekalipun. Keseimbangan mutlak diperlukan.


Yah, namanya juga tanding kekuatan, sekali-kali kalah tidaklah mengapa, yang penting tidak terbunuh. Memang, setiap jurus yang dikeluarkan harus diperhitungkan dengan hati-hati dan akurat. Remidial tidaklah berlaku untuk sebuah kegagalan.


Setelah berhasil kabur, pastikan mendapat tempat persembunyian yang aman.

Jika salah sedikit saja dan mengundang kesiagaan penjaga, tertangkap/disiksa/dibunuh adalah konsekuensinya.

Jika misi berhasil, jangan lupa foto-foto untuk kenangan.
Sebagai penggemar serial Naruto, saya bertekad untuk mempelajari jurus-jurus ninja yang dipraktekkan para shinobi.
Dasar dari ninja adalah menyusup dan sabotase. Duel satu lawan satu dan bunuh diri ketika gagal seperti yang dilakukan para samurai adalah sesuatu yang tidak diperlukan. Tipu muslihat sangatlah efektif untuk menghancurkan lawan. Ketika terdesak, kabur dan menghilang adalah jalan terbaik.
Sebelum bergerak, pastikan perimeter aman.
Kadang ninja harus bergerak dengan posisi ekstrim untuk menghindari ranjau dan jebakan lainnya.
Memanjat sangat efektif untuk menerobos benteng musuh.
Terkadang penjaga lebih waspada sehingga terpaksa harus dihadapi dalam posisi sulit sekalipun. Keseimbangan mutlak diperlukan.
Yah, namanya juga tanding kekuatan, sekali-kali kalah tidaklah mengapa, yang penting tidak terbunuh. Memang, setiap jurus yang dikeluarkan harus diperhitungkan dengan hati-hati dan akurat. Remidial tidaklah berlaku untuk sebuah kegagalan.
Setelah berhasil kabur, pastikan mendapat tempat persembunyian yang aman.
Jika salah sedikit saja dan mengundang kesiagaan penjaga, tertangkap/disiksa/dibunuh adalah konsekuensinya.
Jika misi berhasil, jangan lupa foto-foto untuk kenangan.
Tiga Dewa
Mengingat masa-masa indah dulu memang menyenangkan. Banyak kenangan-kenangan yang tak terlupakan (pada prakteknya banyak yang terlupakan juga). Apalagi pada masa saya masih muda di SMA dulu banyak hal-hal baru yang diperoleh dan menjadi pengalaman yang sangat berharga. Sebagai seorang pemuda yang baru terserang hama pubertas, saya memiliki rasa ingin tahu yang besar terhadap segala hal. Ketika menemukan jawaban atas kuriositas (mencoba menyerap kata curiosity) yang mengebu-gebu, diri ini serasa mendapat kepuasan yang tiada tara (tentu saja ini hiperbolik belaka, jangan terprovokasi).
Salah satu jurus baru yang saya pelajari semasa SMA adalah jurus penguasaan komputer. Haha, memang pada abad dua puluh dulu yang namanya PC masih menjadi barang yang sangat langka (karena sekolahnya di pelosok kampung) jadi tidak mengherankan jika saya yang jenius ini (*dengan gaya bicara dan mimik muka Hanamichi Sakuragi) baru menyentuh barang yang disebut komputer (yang kata sesepuh merupakan barang yang sangat canggih dan dapat melakukan hampir semua hal)setelah masuk SMA.
Pertama kali mengikuti ekstrakurikuler komputer, Microsoft Word terlihat sungguh canggih (beberapa tahun kemudian, saya baru menyadari bahwa aplikasi terhebat sepanjang masa adalah Notepad, Ms Paint, dan Command Prompt; hal ini akan dijelaskan kemudian).
Tidak hanya itu, seiring dengan berjalannya ekstrakurikuler tersebut kemampuanku berkembang sangat pesat.
Bosan dengan huruf-huruf yang tersusun teratur, diriku mulai merambah ke aplikasi yang tidak diajarkan dalam ekstrakurikuler. Pada saat itu, bisa membuat gambar warna-warni sederhana dengan Ms Paint sudah dianggap sangat sakti. Dan saya tidak salah belajar jurus, Ms Paint merupakan salah satu dari beberapa aplikasi yang masih tetap eksis walaupun Windows Vista yang sangat powerful (dibandingkan Windows 95) sudah lahir.
Agar tidak ketinggalan zaman, diriku mulai membeli peralatan komputer dimulai dengan sebuah disket tiga-setengah-inchi yang canggih.
Seperti komik-komik Jepang, kemampuanku dalam hal perkomputeran selalu meningkat setiap kali menghadapimusuh hal baru dan berganti episode. Pengetahuan mengenai Ms DOS sangatlah berguna terutama untuk melihat isi disket yang dicurigai bervirus. Virus Folder.htt yang mewabah pada saat itu akan aktif di Windows Explorer. Pada zaman sekarang, Windows Commander yang selalu saya bawa juga sangat berguna untuk hal serupa. Ketika fail-fail yang ada diatribut-hidden-system-kan serta pilihan Folder Option, kotak dialok Run, dan Regedit sudah lumpuh, fail-fail yang menghilang dapat tetap diexplore. Fail-fail siluman (executable file berbulu Folder) dapat segera didentifikasi dan dihapus manual.
Notepad juga sangat berguna. Untuk sekedar mengetik draf blog tidaklah perlu memanggil aplikasi Ms Word ataupun pengolah kata lainnya yang ribet dan menguras tenaga (CPU). Dengan kesederhanaannya, Notepad setia menemani blogger mengetikkan setiap kata yang keluar dari otaknya.
n.b.
Mohon tidak terprovokasi dengan judul di atas.
Salah satu jurus baru yang saya pelajari semasa SMA adalah jurus penguasaan komputer. Haha, memang pada abad dua puluh dulu yang namanya PC masih menjadi barang yang sangat langka (karena sekolahnya di pelosok kampung) jadi tidak mengherankan jika saya yang jenius ini (*dengan gaya bicara dan mimik muka Hanamichi Sakuragi) baru menyentuh barang yang disebut komputer (yang kata sesepuh merupakan barang yang sangat canggih dan dapat melakukan hampir semua hal)setelah masuk SMA.
Seorang bapak-bapak paruh baya, tetangga rumah di kampung sana (dengan berapi-api):
"Komputer itu sangat canggih, ya, mas. Kalo misalkan ada maling kabur terus kita pake komputer, maling itu bisa ketemu dengan mudah."
"Ya, Pak. Yang penting ada sidik jarinya terus dicocokkan dengan data (maksudnya basis data) yang ada di komputer nanti bisa ketahuan siapa orangnya."
Kemudian dia melanjutkan pembicaraan ngalor-ngidul kami dengan menjelaskan bahwa dengan komputer juga bisa melacak lokasi sang pencuri. Tentu saja semua tersebut mungkin tetapi prosesnya (pengguna, perangkat keras, perangkat lunak, dan basis data yang dipelukan) tidak sesederhana itu.
CERITA LAIN
Seorang bapak-bapak paruh baya juga:
"Kalo sekarang orang-orang nyimpen program (maksudnya fail), kan di disket. Kenapa tidak dibuat biar data itu bisa disimpen dalam bau-bauan."
Diriku hanya diam, tidak bisa menjelaskan teknologi yang belum pernah diskripkan dalam film manapun itu.
Pertama kali mengikuti ekstrakurikuler komputer, Microsoft Word terlihat sungguh canggih (beberapa tahun kemudian, saya baru menyadari bahwa aplikasi terhebat sepanjang masa adalah Notepad, Ms Paint, dan Command Prompt; hal ini akan dijelaskan kemudian).
Azhar sedang berlatih mengetik kalimat pertamanya. Pelajaran otodidak dengan mesin ketik di rumah membuatnya akrab dengan kibor QWERTY yang digunakan tetapi tentunya masih grogi menghadapi monitor CRT.
Andri, teman sekelas, lebih tajir dan sudah punya komputer:
"Zhar, kalo ngetiknya sudah mentok ke kanan tidak perlu di-enter, nanti otomatis ganti baris sendiri"
"Oh, ya, ngga' seperti mesin ketik ya."
Sebuah nasehat yang berharga dari seorang teman (so sweat...).
Tidak hanya itu, seiring dengan berjalannya ekstrakurikuler tersebut kemampuanku berkembang sangat pesat.
"Hei, lihat, aku berhasil membuat hurufnya warna-warni dan ukurannya berbeda-beda."
Dan dengan antusiasnya teman semeja (satu PC untuk 2-3 siswa; maklum barang langka) menunjukkan keahliannya dalam hal serupa.
Bosan dengan huruf-huruf yang tersusun teratur, diriku mulai merambah ke aplikasi yang tidak diajarkan dalam ekstrakurikuler. Pada saat itu, bisa membuat gambar warna-warni sederhana dengan Ms Paint sudah dianggap sangat sakti. Dan saya tidak salah belajar jurus, Ms Paint merupakan salah satu dari beberapa aplikasi yang masih tetap eksis walaupun Windows Vista yang sangat powerful (dibandingkan Windows 95) sudah lahir.
Jurus Pemanggilan Ms Paint:
- Tekan tombol "Windows",
- tekan tombol "R"
- ketik "mspaint" tanpa tanda petik, dan
- tekan "enter".
Agar tidak ketinggalan zaman, diriku mulai membeli peralatan komputer dimulai dengan sebuah disket tiga-setengah-inchi yang canggih.
"Mba, disket ini bisa buat nyimpen gambar ya."
Mba-mba penjaga rental komputer tempat diriku membeli disket: "Ya, silahkan kalo mau nyimpen gambar porno."
Diriku menyesal bertanya.
Seperti komik-komik Jepang, kemampuanku dalam hal perkomputeran selalu meningkat setiap kali menghadapi
Notepad juga sangat berguna. Untuk sekedar mengetik draf blog tidaklah perlu memanggil aplikasi Ms Word ataupun pengolah kata lainnya yang ribet dan menguras tenaga (CPU). Dengan kesederhanaannya, Notepad setia menemani blogger mengetikkan setiap kata yang keluar dari otaknya.
n.b.
Mohon tidak terprovokasi dengan judul di atas.
Rabu, 20 Februari 2008
Biro Jodoh
Apa yang terjadi apabila dirimu hidup sendiri di atas muka bumi? Atau jumlah manusia di Bumi hanya beberapa gelintir saja? Itulah yang diriku rasakan ketika sebagian besar pegawai kantor menjalankan tugas di luar kota. Dari enam puluhan pegawai, hanya tinggal beberapa orang satpam, cleaning service, staf biasa, beberapa pejabat yang jaga kantor.
Membayangkan tiga puluh lima hari dalam keheningan (kok jadi puitis) sungguh terasa sunyi (ya iya lah). Untungnya, pekerjaan yang harus diselesaikan selalu ada.
Ketika pertama kali diciptakan, nabi Adam juga merasa kesepian. Semua kemewahan alam kahyangan dinikmati sendiri. Malaikat yang diciptakan tanpa nafsu tentunya tidak dapat menikmati kehidupan surgawi karena hidupnya hanyalah semata-mata patuh terhadap perintah Sang Mahakuasa. Sampai kemudian pada suatu hari, diciptakanlah Hawa yang dikloning dari tulang rusuk Adam untuk menemaninya. Tentu saja diriku tidak dapat mencongkel tulang rusuku sendiri untuk menciptakan teman ngobrol dikantor ataupun mencabut bulu ketek untuk dibuat kloningku sendiri seperti Sun Go Kong atau mengeluarkan Kage Bunshin No Jutsu (Shadow Replicant Technique) untuk membuat tiruan diriku seperti Naruto.
Untuk itulah mp3, hape, dan internet diciptakan. Mp3 dapat memberikan hiburan tanpa mengeluh, hape dapat mengirimkan pesan-pesan tidak penting kepada teman jauh, dan internet dapat memberikan jangkauan informasi yang tanpa batas. Tentu saja jika dirimu tidak hanya terkurung dalam chat tidak bermutu atau surfing tanpa akhir dalam friendster. Setidaknya diriku tidak (merasa) sendiri.
Di tengah kesibukan yang sunyi, salah seorang temanku dari Subbagian SDM meminta diriku untuk membantunya PDKT dengan seorang cewek. Diriku yang masih jomblo ini bertekad kuat untuk menjadi Mas Comblang yang baik.

Inilah foto temanku, seorang pegawai yang masih sangat muda dan tentunya masih memiliki ciri-ciri pubertas yang kental dan idealisme yang aneh-aneh. Berpose porno di dalam kantor adalah salah satunya. Untungnya foto ini diambil malam hari sehingga pegawai lain sudah pulang dan tidak ada ibu-ibu yang akan berteriak melihat penampakan yang satu ini saat hendak memakai mesin foto kopi. Untuk melindungi identitas pelaku pornoaksi ini, mukanya (dalam foto) saya hancurkan.

Cewek yang diincar masihlah sangat belia. Hal itu bisa dilihat dari seragam SMA yang dikenakannya. Dirinya juga sama narsisnya dengan si cowok, suka berfoto ngga jelas dengan background indahnya tembok kantor. Mohon maaf, kecantikannya tidak dapat dinikmati secara umum karena mukanya juga saya hancurkan untuk melindungi kehormatannya.
Dengan jampi-jampi yang tidak ribet, lirik sani-lirik sini, sentuh sana-sentuh sini, copy, paste, crop, blur, mask, dll, hampirlah diriku berhasil menyatukan mereka berdua. Dikarenakan tempilan widescreen laptop yang terlalu canggih, diriku melakukan salah perhitungan dalam mengukur lebar badan si cewek. Jadilah dirinya terlalu kerempeng dan terlihat palsu.

Akhirnya temenku melancarkan protes dan mengajukan naik banding karena tidak puas dengan hasil cetakan fotonya. Akibatnya, diriku harus menyempatkan sedikit waktu tambahan untuk dapat menyempurnakan cinta mereka dalam pelukan penuh kasih sayang. Yap, dengan kemampuan supranaturalku, diriku berhasil memperbaiki bentuk tubuh si cewek dan menghadirkan sebuag mahakarya
cinta yang tidak akan lapuk oleh masa (kecuali di"shift+del", format ulang, dan ritual pembersihan harddisk lainnya).

Jikalau ada yang berniat menyandingkan dua orang yang belum tentu saling mencinta seperti Ahmad Deni dengan Wulan Kwok misalnya, cukup kirimkan saja foto keduanya dengan pose yang pas dan sedikit mesra untuk kemudian digabungkan.
Membayangkan tiga puluh lima hari dalam keheningan (kok jadi puitis) sungguh terasa sunyi (ya iya lah). Untungnya, pekerjaan yang harus diselesaikan selalu ada.
Ketika pertama kali diciptakan, nabi Adam juga merasa kesepian. Semua kemewahan alam kahyangan dinikmati sendiri. Malaikat yang diciptakan tanpa nafsu tentunya tidak dapat menikmati kehidupan surgawi karena hidupnya hanyalah semata-mata patuh terhadap perintah Sang Mahakuasa. Sampai kemudian pada suatu hari, diciptakanlah Hawa yang dikloning dari tulang rusuk Adam untuk menemaninya. Tentu saja diriku tidak dapat mencongkel tulang rusuku sendiri untuk menciptakan teman ngobrol dikantor ataupun mencabut bulu ketek untuk dibuat kloningku sendiri seperti Sun Go Kong atau mengeluarkan Kage Bunshin No Jutsu (Shadow Replicant Technique) untuk membuat tiruan diriku seperti Naruto.
Untuk itulah mp3, hape, dan internet diciptakan. Mp3 dapat memberikan hiburan tanpa mengeluh, hape dapat mengirimkan pesan-pesan tidak penting kepada teman jauh, dan internet dapat memberikan jangkauan informasi yang tanpa batas. Tentu saja jika dirimu tidak hanya terkurung dalam chat tidak bermutu atau surfing tanpa akhir dalam friendster. Setidaknya diriku tidak (merasa) sendiri.
Di tengah kesibukan yang sunyi, salah seorang temanku dari Subbagian SDM meminta diriku untuk membantunya PDKT dengan seorang cewek. Diriku yang masih jomblo ini bertekad kuat untuk menjadi Mas Comblang yang baik.

Inilah foto temanku, seorang pegawai yang masih sangat muda dan tentunya masih memiliki ciri-ciri pubertas yang kental dan idealisme yang aneh-aneh. Berpose porno di dalam kantor adalah salah satunya. Untungnya foto ini diambil malam hari sehingga pegawai lain sudah pulang dan tidak ada ibu-ibu yang akan berteriak melihat penampakan yang satu ini saat hendak memakai mesin foto kopi. Untuk melindungi identitas pelaku pornoaksi ini, mukanya (dalam foto) saya hancurkan.
Cewek yang diincar masihlah sangat belia. Hal itu bisa dilihat dari seragam SMA yang dikenakannya. Dirinya juga sama narsisnya dengan si cowok, suka berfoto ngga jelas dengan background indahnya tembok kantor. Mohon maaf, kecantikannya tidak dapat dinikmati secara umum karena mukanya juga saya hancurkan untuk melindungi kehormatannya.
Dengan jampi-jampi yang tidak ribet, lirik sani-lirik sini, sentuh sana-sentuh sini, copy, paste, crop, blur, mask, dll, hampirlah diriku berhasil menyatukan mereka berdua. Dikarenakan tempilan widescreen laptop yang terlalu canggih, diriku melakukan salah perhitungan dalam mengukur lebar badan si cewek. Jadilah dirinya terlalu kerempeng dan terlihat palsu.

Akhirnya temenku melancarkan protes dan mengajukan naik banding karena tidak puas dengan hasil cetakan fotonya. Akibatnya, diriku harus menyempatkan sedikit waktu tambahan untuk dapat menyempurnakan cinta mereka dalam pelukan penuh kasih sayang. Yap, dengan kemampuan supranaturalku, diriku berhasil memperbaiki bentuk tubuh si cewek dan menghadirkan sebuag mahakarya
cinta yang tidak akan lapuk oleh masa (kecuali di"shift+del", format ulang, dan ritual pembersihan harddisk lainnya).

Jikalau ada yang berniat menyandingkan dua orang yang belum tentu saling mencinta seperti Ahmad Deni dengan Wulan Kwok misalnya, cukup kirimkan saja foto keduanya dengan pose yang pas dan sedikit mesra untuk kemudian digabungkan.
Trilogi TUP Ep 2 - Bank
Dengan langkah mantap kumelangkah menuju ruangan Pak Eko. Kali ini tidak akan salah orang lagi karena kedelai tidak akan terperosok dua kali di lubang yang sama.
Kali ini, semua menjadi lancar. Surat dispensasi dari Kanwil telah diperoleh, SPM dibuat dan diajukan ke KPPN beberapa hari kemudian, dan SP2D dari KPPN terbit di hari berikutnya. Next stage, ngambil uang.
"Bisa nanya saldo ngga', Bu?" tanyaku
kepada seorang petugas bank.
"Nomor rekeningnya, Pak?"
"081575796xxx."
"satu juta sekian sekian."
"Serius?"
Akhirnya dengan sedikit malas diriku masuk ke dalam (salah satu ruangan yang terletak di belakang teller, melalui pintu di sebelah area teller) dan menemui pegawai bank dengan jabatan yang lebih tinggi.
"selamat siang, Pak," sapaku (mencoba) ramah kemudian memperkenalkan diri, basa-basi, serta mengutarakan keluhan "... tapi kayaknya belum masuk rekening, padahal SP2D dari KPPN sudah terbit..."
Setelah melalui percakapan singkat dan sedikit bertanya kepada stafnya, Pak Bejo (sebut saja begitu) mengatakan bahwa memang transfer uang ke rekening bendahara belum dapat dilakukan dan menjanjikan masalah ini akan diselesaikan hari ini juga dan besok pagi uang sudah dapat diambil.
Keesokan harinya....
Hari ini adalah hari yang langka karena seluruh planet-planet terletak dalam kedudukan yang sejajar. Tidak, itu tidaklah benar tetapi hari ini adalah hari yang sungguh penuh kebetulan karena dengan kedatangan tamu penting dari kantor pusat, seluruh prajurit pemeriksa yang sedang berpencar di daerah penugasan masing-masing diinstruksikan oleh Bos Besar untuk kembali dan menyambut Sang Tamu. Dengan demikian, jika hari ini saya berhasil mencairkan uang untuk biaya pemeriksaan, dana tersebut dapat segera didistribusikan langsung kepada tim-tim bersangkutan tanpa harus melakukan ritual transfer antarrekening yang ribet dan melelahkan.
Dengan persiapan doa seadanya, dua lembar cek (nominal pengambilan separuh dari nilai yang diperlukan telah terlanjur tertulis di satu lembar sehingga diperlukan satu lembar lagi untuk menutup separuhnya), serta seorang bodyguard (satpam) yang sangar (tapi ramah), diriku berangkat pagi-pagi ke bank.
Dengan sedikit basa-basi dan verifikasi cek yang prosedural, jumlah uang yang diperlukan dapat diambil walaupun sedikit menunggu.
"Tunggu sebentar, ya, Pak," kata Pak Untung (teller bank dengan nama samaran) sambil masuk ke ruangan lain yang aku perkirakan adalah tempat penyimpanan uang.
Kemudian beliau kembali dengan tergopoh-gopoh, "Pak ceknya belum diberi tanggal," sambil menyodorkan cek yang dimaksud.
Dengan sedikit gerakan diriku membubuhkan tanggal di sebelah kanan atas cek kemudian Pak Untung kembali kedalam.
Kedua kalinya dia datang dengan kecepatan yang tidak biasa (sebut saja agak terburu-buru), "Yang ini juga belum diberi tanggal, Pak," sambil menyodorkan lembaran cek kedua.
Arrrg (frase standar untuk mengungkapkan kekesalan), kenapa tidak dicek dari awal..., harusnya petugas bank memeriksa kelengkapan dokumen (tanda tangan, tanggal, nama, dsb.) dari awal. Tapi diriku maklum dengan usianya yang kemungkinan besar mendekati kepala lima, diriku yang masih belia saja suka ngeblank.
Akhirnya,uang yang diperlukan dapat segera dibawa pulang.
=============
Yang dimaksud TUP di sini bukanlah Tante-tante Unjuk Paha, Tukang Ukur Pinggang, Topi Untuk Pajangan, dan istilah ngga' mutu lainnya tetapi Tambahan Uang Persediaan.
Jadi begini ceritanya, setiap instansi pemerintah (sebut saja satuan kerja - satker) memiliki anggaran untuk digunakan selama satu periode (yang lamanya satu tahun). Dari sekian rupiah anggaran tersebut, ada sepersekian (sesuai ketentuan) yang boleh dicairkan (ditransfer dari rekening negara) ke rekening bendahara satker tersebut. Uang tersebut digunakan untuk pengeluaran-pengeluaran yang jumlahnya kecil (seperti pembelian peralatan kebersihan, perbaikan mobil dinas dan apapun yang nilainya kecil yang sudah teranggarkan) dan disebut Uang Persediaan (UP). Jika UP sudah hampir habis, bendahara satker dapat mengajukan reimburst ke KPPN dengan melampirkan rincian pembelanjaan yang sudah dilakukan. Pengelolaan UP mirip petty cash - istilah yang lebih familiar bagi para akuntan - dalam lingkup yang lebih luas.
Ada kalanya, bendahara memerlukan uang yang sangat banyak untuk membiayai kegiatan yang sudah
dianggarkan tapi sifatnya mendesak seperti kegiatan pmeriksaan laporan keuangan yang dilakukan serentak oleh beberapa tim sekaligus (terhadap beberapa laporan keuangan pemerintah daerah sekaligus) dan menuntut biaya yang tidak sedikit. Untuk itulah Tambahan Uang Persediaan (TUP) diperlukan. Kegiatan yang dibiayai dengan TUP harus sudah selesai dalam waktu satu bulan sejak SP2D diterbitkan dan sisa dana harus ditransfer ke rekening negara.
Prof. Dr. Mangkurodjo, seorang ilmuwan, nekat melakukan penelitian di pedalaman hutan Kalimantan. Selama berhari-hari dia mengamati komunitas manusia kanibal yang hidup di tengah hutan. Tentunya observasi tersebut dilakukan dengan sembunyi-sembunyi.
Suatu hari, dia mengalami kejadiaan naas. Pada saat melakukan pengamatan dari balik semak-semak, kakinya mengenai perangkap yang telah disiapkan oleh penduduk lokal yang sudah mencium kedatangan makhluk asing sejak kedatangan Prof. Dr. Mangkurodjo.
"Ternyata ini sumber bau-bau kecut yang selama ini mengganggu kita," kata kepala suku dengan bahasa pedalaman. Prof. Dr. Mangkurodjo diikat di tiang eksekusi khas penghuni pedalaman. Kakinya berpijak pada tumpukan kayu yang disiapkan untuk membakar korban di atasnya menjadi daging pangang yang lezat. Mulutnya disumpal dan bajunya dilepas meninggalkan adegan bugil yang menyedihkan. Warga suku berbaris mengelilingi tanah lapang tersebut, bersiap untuk pesta.
"Pongkah atau mati," kalimat yang terucap dari mulut kepala suku. Bau mulutnya penuh bakteri dan menusuk hidung, Profesor memalingkan muka berusaha menjauhi sumber bencana itu.
"Pongkah atau mati," ulang kepala suku sambil semakin mendekatkan muka baunya ke wajah Profesor. Bau mulutnya semakin menjadi-jadi.
Semua warga suku diam menunggu keputusan dari sang ilmuwan. Kepala suku melotot menunggu dengan tidak sabar setiap jawaban yang keluar dari mulut sang ilmuwan.
"Pongkah," lirih sang ilmuwan. Baginya, pongkah, apapun itu, terlihat lebih baik daripada mati.
"Pongkah!" jerit sang kepala suku kepada segenap rakyatnya.
"pongkaaah!" sambut para kanibal tersebut dengan antusias kemudian menari a la suku pedalaman mengitari sang korban.
Beberapa hari kemudian sang profesor diselamatkan tim penyelamat yang dikirim oleh universitas karena beberapa hari terakhir tidak menerima laporan dari sang profesor; menandakan ada sesuatu yang tidak beres. Kecurigaan mereka tepat sehingga tim penyelamat datang tepat waktu mendapati sang profesor sedang terbaring di pantai; menderita karena telah menjadi korban sodomi orang sekampung.
Setelah menjalani perawatan intensif fisik maupun mental, prof. Mangkurodjo memberikan wejangan kepada prof. Mangkurondho, penerusnya, yang sedang menjenguknya sebelum berangkat melanjutkan penelitian yang terhenti.
"Mangkurondho," katanya lemah, "kalo kamu ditangkap orang pedalaman kanibal itu,apapun tawaran mereka, mending kamu pilih mati."
Dengan persiapan yang matang dan sedikit wejangan dari pendahulunya, Mangkurondho berangkat menuju hutan Kalimantan.
Singkat kata, singkat cerita, Mangkurondho mengalami nasib yang sama, dia tertangkap dan dihadapkan pada pilihan yang sama juga.
"Pongkah atau mati," kalimat yang terucap dari mulut kepala suku. Bau mulutnya penuh bakteri dan menusuk hidung, Profesor memalingkan muka berusaha menjauhi sumber bencana itu.
"Pongkah atau mati," ulang kepala suku sambil semakin mendekatkan muka baunya ke wajah Profesor. Bau mulutnya semakin menjadi-jadi.
Semua warga suku diam menunggu keputusan dari sang ilmuwan. Kepala suku melotot menunggu dengan tidak sabar setiap jawaban yang keluar dari mulut sang ilmuwan.
"Mati," lirih sang ilmuwan. Mengingat cerita Prof. Mangkurodjo, lebih baik mati daripada dipongkah.
"Mati!" jerit sang kepala suku kepada segenap rakyatnya.
"Matii!" sambut para kanibal tersebut dengan antusias kemudian menari a la suku pedalaman mengitari sang korban.
Akhirnya, Prof. Mangkurondhopun dipongkah sampai mati.
(sumber: cerita dari mulut ke telinga, otak, mulut, dan telinga lagi)
Kali ini, semua menjadi lancar. Surat dispensasi dari Kanwil telah diperoleh, SPM dibuat dan diajukan ke KPPN beberapa hari kemudian, dan SP2D dari KPPN terbit di hari berikutnya. Next stage, ngambil uang.
"Bisa nanya saldo ngga', Bu?" tanyaku
kepada seorang petugas bank.
"Nomor rekeningnya, Pak?"
"081575796xxx."
"satu juta sekian sekian."
"Serius?"
Akhirnya dengan sedikit malas diriku masuk ke dalam (salah satu ruangan yang terletak di belakang teller, melalui pintu di sebelah area teller) dan menemui pegawai bank dengan jabatan yang lebih tinggi.
"selamat siang, Pak," sapaku (mencoba) ramah kemudian memperkenalkan diri, basa-basi, serta mengutarakan keluhan "... tapi kayaknya belum masuk rekening, padahal SP2D dari KPPN sudah terbit..."
Setelah melalui percakapan singkat dan sedikit bertanya kepada stafnya, Pak Bejo (sebut saja begitu) mengatakan bahwa memang transfer uang ke rekening bendahara belum dapat dilakukan dan menjanjikan masalah ini akan diselesaikan hari ini juga dan besok pagi uang sudah dapat diambil.
Keesokan harinya....
Hari ini adalah hari yang langka karena seluruh planet-planet terletak dalam kedudukan yang sejajar. Tidak, itu tidaklah benar tetapi hari ini adalah hari yang sungguh penuh kebetulan karena dengan kedatangan tamu penting dari kantor pusat, seluruh prajurit pemeriksa yang sedang berpencar di daerah penugasan masing-masing diinstruksikan oleh Bos Besar untuk kembali dan menyambut Sang Tamu. Dengan demikian, jika hari ini saya berhasil mencairkan uang untuk biaya pemeriksaan, dana tersebut dapat segera didistribusikan langsung kepada tim-tim bersangkutan tanpa harus melakukan ritual transfer antarrekening yang ribet dan melelahkan.
Dengan persiapan doa seadanya, dua lembar cek (nominal pengambilan separuh dari nilai yang diperlukan telah terlanjur tertulis di satu lembar sehingga diperlukan satu lembar lagi untuk menutup separuhnya), serta seorang bodyguard (satpam) yang sangar (tapi ramah), diriku berangkat pagi-pagi ke bank.
Dengan sedikit basa-basi dan verifikasi cek yang prosedural, jumlah uang yang diperlukan dapat diambil walaupun sedikit menunggu.
"Tunggu sebentar, ya, Pak," kata Pak Untung (teller bank dengan nama samaran) sambil masuk ke ruangan lain yang aku perkirakan adalah tempat penyimpanan uang.
Kemudian beliau kembali dengan tergopoh-gopoh, "Pak ceknya belum diberi tanggal," sambil menyodorkan cek yang dimaksud.
Dengan sedikit gerakan diriku membubuhkan tanggal di sebelah kanan atas cek kemudian Pak Untung kembali kedalam.
Kedua kalinya dia datang dengan kecepatan yang tidak biasa (sebut saja agak terburu-buru), "Yang ini juga belum diberi tanggal, Pak," sambil menyodorkan lembaran cek kedua.
Arrrg (frase standar untuk mengungkapkan kekesalan), kenapa tidak dicek dari awal..., harusnya petugas bank memeriksa kelengkapan dokumen (tanda tangan, tanggal, nama, dsb.) dari awal. Tapi diriku maklum dengan usianya yang kemungkinan besar mendekati kepala lima, diriku yang masih belia saja suka ngeblank.
Suatu pagi, diriku hendak berangkat ke kantor dengan penuh semangat a la Spongebob. Semua persiapan sudah dilakukan; absen pagi (boker), pake baju (ya iya lah), menyisir rambut, memakai minyak wangi (dengan harga semurah itu, wangi yang timbul hanya sebatas sugesti aja), memakai hand-body lotion (sedikit metroseksual gapapa kan), bawa laptop (pinjeman kantor), bawa kunci laci kantor dan kunci motor, serta mematikan lampu kamar.
Keluar kamar, menutup pintu.
Arrrg, kunci kamar tertinggal di dalam. Bagaimana mengunci pintu tanpa kuncinya?
Membuka pintu yang susahnya bukan main (knopnya sudah agak rusak), mengambil kunci pintu, keluar kamar, mengunci pintu, segera hendak menstater motor.
Arrrrrrrrg, kunci motor tertinggal di dalam kamar ketika mengambil kunci kamar.
Membuka pintu yang susahnya bukan main (knopnya sudah agak rusak), mengambil kunci motor, keluar kamar, mengunci pintu, segera menstater motor.
Akhirnya diriku berangkat kantor a la semangat Squidword.
Akhirnya,uang yang diperlukan dapat segera dibawa pulang.
=============
Yang dimaksud TUP di sini bukanlah Tante-tante Unjuk Paha, Tukang Ukur Pinggang, Topi Untuk Pajangan, dan istilah ngga' mutu lainnya tetapi Tambahan Uang Persediaan.
Jadi begini ceritanya, setiap instansi pemerintah (sebut saja satuan kerja - satker) memiliki anggaran untuk digunakan selama satu periode (yang lamanya satu tahun). Dari sekian rupiah anggaran tersebut, ada sepersekian (sesuai ketentuan) yang boleh dicairkan (ditransfer dari rekening negara) ke rekening bendahara satker tersebut. Uang tersebut digunakan untuk pengeluaran-pengeluaran yang jumlahnya kecil (seperti pembelian peralatan kebersihan, perbaikan mobil dinas dan apapun yang nilainya kecil yang sudah teranggarkan) dan disebut Uang Persediaan (UP). Jika UP sudah hampir habis, bendahara satker dapat mengajukan reimburst ke KPPN dengan melampirkan rincian pembelanjaan yang sudah dilakukan. Pengelolaan UP mirip petty cash - istilah yang lebih familiar bagi para akuntan - dalam lingkup yang lebih luas.
Ada kalanya, bendahara memerlukan uang yang sangat banyak untuk membiayai kegiatan yang sudah
dianggarkan tapi sifatnya mendesak seperti kegiatan pmeriksaan laporan keuangan yang dilakukan serentak oleh beberapa tim sekaligus (terhadap beberapa laporan keuangan pemerintah daerah sekaligus) dan menuntut biaya yang tidak sedikit. Untuk itulah Tambahan Uang Persediaan (TUP) diperlukan. Kegiatan yang dibiayai dengan TUP harus sudah selesai dalam waktu satu bulan sejak SP2D diterbitkan dan sisa dana harus ditransfer ke rekening negara.
Langganan:
Postingan (Atom)