Penelusuran google
Sabtu, 29 Agustus 2009
Minggu, 09 Agustus 2009
Sabtu, 01 Agustus 2009
Kamis, 23 Juli 2009
Sabtu, 18 Juli 2009
Nyuci Motor Di Jambi

Bosen nungguin motor lagi dicuci, mending foto-foto.
Mau foto muka sendiri, kurang pede.
Mau foto mas-mas tukang cuci motornya, takut dimintai royalti.
"Mas, saya foto, ya. Nanti saya masukin blog saya tapi nyuci motornya gratis, ya."
Boro-boro digratisin, malah minta royalti.
Beralih dari makhluk hidup, sasaran fotoku berganti ke benda mati. Untung pengelola ga masang tanda peringatan "kamera disilang", jadi tidak ada satpam yang tiba-tiba datang pas lagi asyik-asyiknya memfoto.
Aha, duit di dompet memang abis tapi di saku masih ada Rp10.200. Masih mampu bayar tukang cuci motornya, lah.
Jumat, 17 Juli 2009
Masa Orientasi Siswa - Orientasinya Ke Mana?
Masa Orientasi Siswa, istilah yang terdengar sangat intelek, adalah sebutan untuk kegiatan di sebuah instansi pendidikan yang bertujuan untuk memandu siswa baru beradaptasi dengan lingkungan sekolah yang baru (tentu saja ini definisi ngawur a la Azhar). Kenyataan di lapangan (emang maen bola apa?) tidak seintelek namanya. Kegiatan yang dilaksanakan terdiri dari sekian persen pengenalan siswa terhadap lingkungan baru dan sekian persen yang jauh lebih besar porsinya kegiatan yang lebih rendah dari "tidak berguna".
Atribut-atribut seni yang warna-warni: rompi karung, papan nama dari kertas karton bertuliskan julukan yang akan menghantui seumur hidup, membawa benda-benda antik (telor, mi instan), kaos kaki beda warna, dan segudang ide kreatif lainnya wajib dipakai adalah pesan implisit dari "kakak senior" kepada "adik yunior", "kamu, yunior, low life, kamu adalah sekedar orang bodoh yang tidak pantas disebut normal, kamu tidak pantas berdiri sejajar dengan kami, karena kalian lahir seabad setelah kami, permalukanlah diri kalian pada dunia untuk menunjukkan bahwa sekolah kalian sama tidak dewasanya dengan kalian, guru-guru kalian membiarkan kalian menjadi olok-olokan, dana kalian tidak akan pernah diterima di sekolah - jika masih bisa disebut demikian - ini"
Berbagai kegiatan "positif" yang membangun kemandirian dan semangat hidup: berjalan kaki membawa batu bata sejauh lima kilometer sampai mati, push up tiap kali berbuat salah (tentu saja "salah" versi "kakak senior"), berpanas-panas untuk mensyukuri kehangatan mentari, dipaksa bertingkah laku seperti robot dengan respon yang terbatas, dan mengerjakan sejuta tugas yang tidak rasional.
Siapa bilang, MOS tidak ada artinya, kami, "kakak senior", berusaha mati-matian membantu "adik yunior" yang kami sayangi agar menjadi seperti kami, dapat bertahan dalam kompetisi dan masuk ke dalam keluarga besar almamater. Kami menjadi dewasa sepereti ini karena dulu juga kami mengalami yang mereka alami.
Apa? Aspek psikologis dari hal-hal yang tidak rasional itu? Tidak perlu aspek psikologis, kami belum menginjak bangku kuliah, belum belajar mata kuliah psikologi. Guru-guru mendukung kami, kok, mereka kan lebih dewasa dan pasti lebih tahu latar belakang dari semua kegiatan yang kami sendiri kurang mengerti reasoning-nya.
Ada yang mati, ya? Kelelahan berjalan jauh ya? Itu, sih kebetulan saja pas sedang ikut MOS. setiap orang kan punya ajal. Kami tidak menuntut mereka mengorbankan hidup mereka kok. Coba tanya pembaca blog ini saja, mereka pasti setuju bahwa kami tidak dapat disalahkan atas kematian seorang anak yang memang sudah lemah fisiknya.
Pembaca sekalian langsung naik pitam, berdiri, meninju layar monitor, dan mencabut kabel power.
Atribut-atribut seni yang warna-warni: rompi karung, papan nama dari kertas karton bertuliskan julukan yang akan menghantui seumur hidup, membawa benda-benda antik (telor, mi instan), kaos kaki beda warna, dan segudang ide kreatif lainnya wajib dipakai adalah pesan implisit dari "kakak senior" kepada "adik yunior", "kamu, yunior, low life, kamu adalah sekedar orang bodoh yang tidak pantas disebut normal, kamu tidak pantas berdiri sejajar dengan kami, karena kalian lahir seabad setelah kami, permalukanlah diri kalian pada dunia untuk menunjukkan bahwa sekolah kalian sama tidak dewasanya dengan kalian, guru-guru kalian membiarkan kalian menjadi olok-olokan, dana kalian tidak akan pernah diterima di sekolah - jika masih bisa disebut demikian - ini"
Berbagai kegiatan "positif" yang membangun kemandirian dan semangat hidup: berjalan kaki membawa batu bata sejauh lima kilometer sampai mati, push up tiap kali berbuat salah (tentu saja "salah" versi "kakak senior"), berpanas-panas untuk mensyukuri kehangatan mentari, dipaksa bertingkah laku seperti robot dengan respon yang terbatas, dan mengerjakan sejuta tugas yang tidak rasional.
Siapa bilang, MOS tidak ada artinya, kami, "kakak senior", berusaha mati-matian membantu "adik yunior" yang kami sayangi agar menjadi seperti kami, dapat bertahan dalam kompetisi dan masuk ke dalam keluarga besar almamater. Kami menjadi dewasa sepereti ini karena dulu juga kami mengalami yang mereka alami.
Apa? Aspek psikologis dari hal-hal yang tidak rasional itu? Tidak perlu aspek psikologis, kami belum menginjak bangku kuliah, belum belajar mata kuliah psikologi. Guru-guru mendukung kami, kok, mereka kan lebih dewasa dan pasti lebih tahu latar belakang dari semua kegiatan yang kami sendiri kurang mengerti reasoning-nya.
Ada yang mati, ya? Kelelahan berjalan jauh ya? Itu, sih kebetulan saja pas sedang ikut MOS. setiap orang kan punya ajal. Kami tidak menuntut mereka mengorbankan hidup mereka kok. Coba tanya pembaca blog ini saja, mereka pasti setuju bahwa kami tidak dapat disalahkan atas kematian seorang anak yang memang sudah lemah fisiknya.
Pembaca sekalian langsung naik pitam, berdiri, meninju layar monitor, dan mencabut kabel power.
Megapolitan ke Megalitikum
Sial, mati lampu lagi.
Di Jambi, dan aku yakin di sebagian besar wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia, mati lampu bukan lagi hal yang jarang. Di zaman internet sudah jadi makanan pokok, mati lampu masih sering terjadi padahal hanya segelintir orang yang terlambat bayar listrik. Itupun kena denda dan stelah sekian lama tidak melunasi tunggakan dikenakan pemutusan hubungan listrik. Kayak pacaran saja, ada putusnya, nyambungnya setelah ada cinta (uang untuk bayar tagihan dan denda) lagi.
Terus kalo mati listrik terus siapa yang disalahkan? Jawabannya berbeda-beda tergantung persepsi orang.
Menurut orang kebanyakan, PLN-lah pelakunya karena tidak berusaha meningkatkan daya listrik yang didistribusikan sehingga tidak mampu memenuhi kebutuhan listrik masyarakat.
Menurut PLN adalah pemerintah yang kurang memberi subsidi sehingga harga listrik terpaksa ditekan, keuntungan semakin menurun dan malah rugi terus.
Menurut pemerintah adalah PLN, masyarakat yang tidak mematuhi gerakan 17-22 yaitu menghemat listrik antara pukul 17.00 sampai pukul 22.00, serta industri yang secara ilegal menggunakan listrik bersubsidi.
Menurut produsen barang elektronik adalah pesaing-pesaing mereka yang tidak mampu membuat produk yang lebih hemat energi.
Menurut produsen barang elektronik lainnya adalah para ilmuwan yang lambat dalam menemukan energi alternatif, produsen-produsen ini tentu saja berniat menghemat biaya penelitian.
Menurut para ilmuwan, para penyandang dana yang pelit dalam memberi dana penelitian.
Menurut saya adalah saya sendiri yang memilih hidup untuk tergantung pada listrik.
Kali ini bukannya saya takut mati karena kehabisan pasokan listrik tapi rencana yang sudah disusun untuk hari ini tidak mempertimbangkan mati lampu.
Gara-gara mati lampu kerjaan jadi terhambat, jadwalpun jadi terhambat, energi serta ketidaknyamanan untuk menyusun rencana hari ini jadi sia-sia, semakin tidak nyaman saja.
Pekerjaan saya tidak begitu penting, tidak menentukan hajat hidup orang banyak, dan tidak berpengaruh pada kelangsungan hidup alam semesta. Sangat sederhana, laporan yang telah disimpan dalam bentuk file berekstensi pdf dibandingkan dengan laporan yang dicetak alias hard copy-nya untuk memastikan bahwa laporan yang diunggah ke situs sama dengan laporan yang dicetak.
Haus akan energi listrik, saya mengembara ke seluruh kantor mencari sejumput energi yang tersimpan di-UPS-UPS. Uninteruptable Power Supply, nama yang berlebihan untuk alat yang hanya sekedar memberi sedikit waktu bagi anda untuk menyimpan pekerjaan dan mematikan komputer ketika mati lampu.
Lumayan untuk sekadar menyambung hidup Si Laptop. Pekerjaan yang ringanpun dapat diselesaikan.
Di Jambi, dan aku yakin di sebagian besar wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia, mati lampu bukan lagi hal yang jarang. Di zaman internet sudah jadi makanan pokok, mati lampu masih sering terjadi padahal hanya segelintir orang yang terlambat bayar listrik. Itupun kena denda dan stelah sekian lama tidak melunasi tunggakan dikenakan pemutusan hubungan listrik. Kayak pacaran saja, ada putusnya, nyambungnya setelah ada cinta (uang untuk bayar tagihan dan denda) lagi.
Terus kalo mati listrik terus siapa yang disalahkan? Jawabannya berbeda-beda tergantung persepsi orang.
Menurut orang kebanyakan, PLN-lah pelakunya karena tidak berusaha meningkatkan daya listrik yang didistribusikan sehingga tidak mampu memenuhi kebutuhan listrik masyarakat.
Menurut PLN adalah pemerintah yang kurang memberi subsidi sehingga harga listrik terpaksa ditekan, keuntungan semakin menurun dan malah rugi terus.
Menurut pemerintah adalah PLN, masyarakat yang tidak mematuhi gerakan 17-22 yaitu menghemat listrik antara pukul 17.00 sampai pukul 22.00, serta industri yang secara ilegal menggunakan listrik bersubsidi.
Menurut produsen barang elektronik adalah pesaing-pesaing mereka yang tidak mampu membuat produk yang lebih hemat energi.
Menurut produsen barang elektronik lainnya adalah para ilmuwan yang lambat dalam menemukan energi alternatif, produsen-produsen ini tentu saja berniat menghemat biaya penelitian.
Menurut para ilmuwan, para penyandang dana yang pelit dalam memberi dana penelitian.
Menurut saya adalah saya sendiri yang memilih hidup untuk tergantung pada listrik.
Kali ini bukannya saya takut mati karena kehabisan pasokan listrik tapi rencana yang sudah disusun untuk hari ini tidak mempertimbangkan mati lampu.
Gara-gara mati lampu kerjaan jadi terhambat, jadwalpun jadi terhambat, energi serta ketidaknyamanan untuk menyusun rencana hari ini jadi sia-sia, semakin tidak nyaman saja.
Pekerjaan saya tidak begitu penting, tidak menentukan hajat hidup orang banyak, dan tidak berpengaruh pada kelangsungan hidup alam semesta. Sangat sederhana, laporan yang telah disimpan dalam bentuk file berekstensi pdf dibandingkan dengan laporan yang dicetak alias hard copy-nya untuk memastikan bahwa laporan yang diunggah ke situs sama dengan laporan yang dicetak.
Haus akan energi listrik, saya mengembara ke seluruh kantor mencari sejumput energi yang tersimpan di-UPS-UPS. Uninteruptable Power Supply, nama yang berlebihan untuk alat yang hanya sekedar memberi sedikit waktu bagi anda untuk menyimpan pekerjaan dan mematikan komputer ketika mati lampu.
Lumayan untuk sekadar menyambung hidup Si Laptop. Pekerjaan yang ringanpun dapat diselesaikan.
Langganan:
Postingan (Atom)



