Penelusuran google

Senin, 12 November 2007

WTS halal?

Jangan berpikir mesum dulu, WTS yang dimaksud adalah Warung Tengah Sawah.



Sesuai dengan namanya, lokasinya memang di area persawahan alias belum punya tetangga. Terletak di desa Jebed, Kecamatan Taman, Kabupaten Pemalang. Walaupun terletak agak jauh dari pusat kota, akses ke lokasi masih relatif mudah. Pengunjung yang datangpun cukup banyak karena menu yang dihidangkan lumayan enak dengan harga yang relatif murah.

Sekarang sudah mending, dulu plang (baca: papan nama) yang digunakan masih terkesan darurat, papan besar dengan tulisan Warung Tengah Sawah yang dikuaskan dengan tangan tanpa sablon. Nama Ibu Ruslani pun belum tampak.

Bu Ruslani tidak pernah menyingkat "Warung Tengah Sawah" menjadi WTS yang berkonotasi negatif tetapi karena papan nama yang digunakan secara jelas menonjolkan huruf "W", "T", dan "S", tentu saja masyarakat tergiring untuk menggunakan singkatan WTS.

Motif untuk mempertahankan nama "Warung Tengah Sawah" masih menjadi misteri, padahal tentu saja Bu Ruslani sudah tahu nama warungnya akan disingkat menjadi WTS.

Jadi, mau short time atau long time nih....

Fenomena Instan

Pernah ngga? Bangun telat dan tiba-tiba teringat ada PR yang harus dikumpulkan segera tetapi kemudian terselamatkan dengan "contoh" hasil kerjaan temennya temen kita dari kelas lain atau bahkan tahun lalu. Dengan sedikit teknik sederhana, klak-klik sana-sini dan sedikit mengiba untuk numpang ngeprin di kamar sebelah, tanpa mengucap abrakadabra, jadilah PR "atas nama sendiri". Dengan sedikit doa dan keberuntungan, beda dosen, beda kelas, dan beda tahun, niscaya plagiatisme tidak terdeteksi.

Peringatan awal, membaca blog ini memerlukan tenaga ekstra dan waktu lebih. Sebelum melanjutkan, ada baiknya tarik nafas dalam-dalam, bikin kopi dan mi dulu untuk mengantisipasi rasa lapar yang meungkin timbul di tengah prosesi pembacaan blog. (terinspirasi oleh wadehel) Subjudul yang disertakan bertujuan sebagai tempat istirahat, atur nafas, menikmati mi, atau sekedar nyruput kopi.

Instan = Cepat

Sekarang jamannya serba cepat. Berbagai alat bantu dibuat untuk membantu (baca: mempercepat dan mengakuratkan) kerja manusia. Hitung-menghitung misalnya, dengan kalkulator, hitungan perkalian yang rumit dapat dilakukan dalam sekejap mata (asal pas mencet tombol tu kalkulator, mata hanya kedip sekali). Orang purba tentu saja tidak perlu menghitung perkalian puluhan digit yang rumit karena memang mereka tidak memerlukannya, yang penting pas butuh ikan mereka punya buah-buahan yang porsinya sepadan untuk dibarter dengan ikan dari kampung sebelah.

Selain itu, muncullah istilah template yang saking instannya (setahuku) belum ada istilah bahasa Indonesianya. Dengan template, seorang tukang jahitpun bisa menjadi perancang halaman situs yang handal. Merancang halaman muka blog pun tidak perlu belajar (misalnya) Microsoft Frontpage ataupun tag-tag HTML dari buku yang tebelnya minta ampun. Tinggal klak-klik sani-sini, "next" dan "next" lagi, wolaa jadilah halaman muka blog yang cantik. Tentu saja ga boleh marah kalo ada blog lain yang mempunyai desain sama persis, namanya juga batik sablon, tinggal cetak aja.

Jadi orang jahat pun sekarang secara instan bisa diwujudkan. Generator virus contohnya, tinggal unduh aplikasinya, klak-klik sana-sini, "next" dan "next" lagi, mak nyuk, jadilah virus dengan nama dan kemampuan (yang tentunya terbatas sesuai dengan aplikasi generator virusnya) yang kita inginkan. Lumayan merepotkan, tetapi pasti selalu kelah mutakhir dengan antivirus yang sudah ada.

Satu kesimpulan dapat diambil, sesuatu yang instan hasilnya tidaklah maksimal tapi soal kecepatan menang. Bagaikan barat dan timur, kecepatan dan mutu memang saling bertolak belakang.

Adakah yang Lebih Instan?

Menurutku, hal instan yang menurutku paling dapat memuaskan kebutuhanku secara instan adalah mi instan yang dengan pedenya menyebutkan frase instan yang secara tersirat membawa pesan moral: "rasa adalah nomor dua". Bangun kesiangan, belum mandi, belum nyetrika, belum ngerjain PR, dan (siksaan paling dahsyat,) perut lapar.

Mandi bisalah disubtitusikan dengan parfum, nyetrika bisalah diganti dengan "yang penting pede, kusut-kusut dikit ga akan dimarahi dosen, lah kalo lapar? Beli nasi uduk di warung Ceuceu harus ngantri, ngga makan ga bisa konsen (baca: tidur tenang) di kelas, akhirnya mi instanlah solusi instan untuk kebutuhan kandungan glukosa dalam darah. Perbungkusnya lumayan, bisa memenuhi 15% (contoh dari salah satu merek mi instan) Angka Kebutuhan Gizi (untuk diet 2000 kalori) per hari. Tentunya biar ga cepet abis, tenaga yang terbatas harus digunakan dengan hemat, jangan banyak gerak dan mikir di kampus; tidur, selain dapat mencegah perbuatan maksiat juga dapat menambah "kenyang"-time (terinspirasi dari istilah talk time).

Hasil survei (kalo bisa disebut survei yah, soalnya aku terpaksa mengalami kelamnya dunia kos-kosan selama kuliah-makan tidak teratur dan tentunya manajemen keuangan yang menyita bandwidth pikiran), tidak hanya diriku yang beranggapan seperti itu; mi instan ternyata menjadi komoditas unik bagi penduduk sipil kos-kosan. Bahkan ada yang khusus menganggarkan untuk makan mi instan sekian hari sekali atau sekian kali sehari. Dengan begitu, anggaran makan bisa ditekan (tight money policy) dan penghematan yang dihasilkan dapat digunakan untuk hal-hal yang lebih tidak berguna seperti membeli komik, traktir temen, dan nonton bioskop-untuk mempertahankan embel-embel "gaul" (yang fana).

Dengan membeli beberapa merek mi instan, menu yang didapat lebih variatif, hari ini makan soto daging, besok makan soto ayam, besonya lagi makan spageti, sate, dan rasa-rasa virtual lainnya. Apapun mereknya, yang penting mi instan, murah dan (apakah) sehat (?).

Temenku lebih parah, dia beli sekaligus satu dus mi instan untuk persediaan. Karena lingkungan kos-kosan yang tidak higienis dan tidak steril, masuklah semut dan teman-teman seperguruannya merampas harta rakyat. Karena sudah tidak perawan lagi, temenku yang satu ini merasa risih melihat tumpukan minya yang sudah ternoda. Karena sayang dibuang, akhirnya kebijakan ekstrim diambil, "Mi ini harus segera dihabiskan". Dengan semangat empat lima akhirnya dimulailah program "days with me mi". Pagi mi, siang mi, malam mi, oh....me mi again....

Dari hasil wawancara tidak resmi aka ngbrol ngalor-ngidul, salah satu oknum penghuni kos-kosan sempet keceplosan mengeluarkan pernyataan menghebohkan (yang mengilhami blog ini), "Tidak ada yang lebih instan daripada mi instan".

Kuliah In-STAN?

Pengen jadi pegawai negeri secara instan? Kuliah aja in STAN (cuma gaya aja dan tidak bermaksud promosi, padahal ada kuliah instan lainnya).

Tersebutlah sebuah kawah Candradimuka yang mampu mengubah (aka convert) seorang lulusan SMA jurusan IPA yang maniak rumus dan pikiran dipenuhi hal-hal yang eksak menjadi buruh rakyat yang bekerja dalam keadaan ekstrim harus mengubah Hukum Newton dan klasifikasi tumbuhan dengan Undang-undang dan Jenjang hirarki jabatan.

Asal lulus Ujian Saringan Masuk (USM), kuliah tiga tahun bisa dinikmati dengan hanya mengeluarkan uang yang tidak seberapa (hanya untuk kegiatan kemahasiswaan dan wisuda; frase "gratis biaya pendidikan" tidak merefer pada uang makan dan biaya kos) dibandingkan dengan biaya kuliah di universitas negeri dan swasta. Angin segar buat rakyat jelata bukan? Tetapi nyatanya banyak anak pejabat dan warga negara kelas menengah ke atas yang turut andil dalam USM yang diselenggarakan dan fairly (secara administrasi) berhasil lulus. Walaupun bersaing secara sportif tapi kan tidak adil secara finansial (orang kaya kok cari yang gratis). Lagi-lagi penonton rakyat dikecewakan.

Karena sistem penerimaan mahasiswa menggunakan saringan yang ketat, tentu saja mahasiswa yang tersaring pun memiliki kualitas yang tidak dapat diremehkan. Sebut sajalah 90% mahasiswa memiliki prestasi akademik di SMA dulu. Tetapi sayang sekali, mahasiswa-mahasiswa yang pernah kutemui 50%(atau mungkin lebih)-nya masuk yang 10% itu.

Kembali ke instan, setelah perjuangan penuh ketidakjelasan selama tiga tahun, begitu selesai yudisium, bebaslah kita dari segala beban. Benarkah begitu? Oh...tidak, Udah sekolah gratis main kabur aja. Ada yang namanya ikatan dinas (kerja paksa, tapi di bayar kok). Pake rumus lagi; 3n+1, dengan n adalah masa kuliah. Jadi, lulusan diploma III ijazahnya ditahan sepuluh tahun dulu (kacian...).

Yang namanya transkrip nilai pun belum pernah diperlihatkan. Setiap akhir semester hanya ada daftar IP yang ditempel di gedung perpustakaan. Selain itu ada juga daftar tumbal; orang yang tidak bisa mempertahankan prestasi kehadiran minimal 80% atau yang tidak beruntung gagal di salah satu mata kuliah. Sedih juga mengetahui temen kita tiba-tiba tidak kelihatan lagi di semester berikutnya. Lebih sedih lagi tentunya apabila kita mengalaminya sendiri.

Masuklah kita ke dalam kancah pertempuran ada yang masuk blok Depkeu, partai BPK, dan kafilah-kafilah lain di dunia persilatan. Saatnya menjadi investasi rakyat untuk
tentunya memberikan return yang lebih besar (?).

Kesimpulan kedua, instan itu settingnya tidak fleksibel. Contoh lain ada juga. Pernah buka rekening baru di sebuah bank. Sebut saja BNI, ada juga loh ATM instan yang jadinya just in time saat itu juga tapi nama kita tidak tercetak di kartu, kalo ilang ya ilang aja.

Begitulah dunia yang sudah mulai menginstan.... Kalo terlalu instan seru ga sih?

Senin, 05 November 2007

Sok Filosofis

Sesuai blueprint awal, sebenernya blog ini punya tujuan buat nulis (baca: menampung) hal-hal yang aku temui di kehidupan sehari-hari (jadi ingat gaya bahasa soal mata pelajaran PPKN di SD dulu) yang unik (atau dipaksakan unik) beserta pemikiran-pemikiran yang timbul di otak(kanan dan kiri)ku. Sedikit sok jadi pemikir gitu, tapi seringnya ide yang muncul menjadi terlalu khayal dan tidak aplikabel. Maaf aja kalo dalam perkembangannya, blog ini menjadi tidak konsisten, ngelantur, dan menuju ke arah narsisme yang tidak terkontrol.

Kembali ke awal kelahiran titikn0l, nama yang menurutku tidak keren dan norak tersebut muncul karena memang diriku yang mortal ini masih belum punya prestasi apa-apa bagi masyarakat sekitar, nusa, dan bangsa alias masih di posisi awal (nol).

Rancangan nama awal untuk blog ini adalah zer0point, sebuah istilah yang muncul begitu saja di benak. Filosofi yang terkandung di dalamnya tentunya muncul belakangan (ide muncul setelah bahan) Dalam perkembangan selanjutnya, khayalanku (setidaknya tidak 100% hanya memikirkan hal-hal cabul) berhasil menghasilkan logo untuk tema titikn0l yang juga lahir jauh sebelum titikn0l muncul di dunia persilatan.



Desainnya sederhana dengan tema (sok) gotik. Bila diperhatikan (semoga bisa terbaca), huruf "Z-E-R"-nya berbentuk ambigram yang diilhami novel Malaikat dan Iblis karya Dan Brown. Huruf "o" atau "0"-nya dibiarkan tetap bulet karena pikiranku sudah mentok ga bisa ngerubah ZER0 menjadi ambigram, jadilah logo semiambigram yang belum dipatenkan ini.

Dimulai dari coret-coretan ga jelas di kertas, perjuangan berlanjut di jendela Macromedia Freehand MX bajakan (Semoga dimaafkan, karena memakai bajakan tidak untuk komersil). Desain yang sederhana semata-mata karena keterbatasan ilmu ke-"freehand"-anku yang hanya diperoleh secara otodidak (seperti nasib Photoshop CS-ku yang juga bajakan dan otodidak-perpaduan yang menyedihkan). Tool yang powerful menjadi tumpul ditangan seorang amatir sepertiku sehingga hasilnya gitu-gitu aja. Pada akhirnya aku cukup (/harus) puas dengan hasilnya.

Agar lebih manusiawi (baca: hidup), aku tambahin sketsa buatanku sendiri. Dengan jurus kilat, akhirnya lahirlah avatarnya zer0.



Goresan yang kasar menunjukkan gambar ini dibuat secara darurat dengan mode fast yang tentunya menomorduakan kualitas (atau karena emang kemampuanku sudah mentok?)

Scaner kantor sudah cukup untuk mendigitalkannya. Dengan sedikit polesan aplikasi wajib para desainer, Mspaint, revert sama fill color sudah cukup untuk menyesuaikannya dengan tema yang diusung logo yang sudah ada sebelumnya. Tau ga, untuk menggabungkan avatar dan logonya digunakanlah Photoshop. Jadi, diperlukan tiga aplikasi untuk menghasilkan logo tak bermutu ini. Hattrick nih.

Begitulah sedikit sejarah titikn0l dan logonya yang belum resmi. Zer0point (baca: titikn0l) merupakan titik awal untuk menjadi hero. Semoga tidak hanya menjadi visi belaka.

n.b.
Barusan aku lihat iklan salah satu operator telepon seluler di sebuah surat kabar yang slogannya (kurang lebih) "Tong Kosong Berbunyi Nyaring. Hati-hati dengan Janji si-Nol!" Semoga iklan tersebut tidak merefer ke blog ini.

Nambah lagi, warna latar hitam ternyata bisa dihubungkan dengan semangat titikn0l karena kode heksadesimal untuk warna hitam adalah 000000 (nol-nol-nol-nol-nol-nol)(gitu yah?)

Sabtu, 03 November 2007

Berkhayal, Boleh Kan?

Beginilah kalo ga kesampean jadi desainer grafis, bakat yang terpendam disalurkan dalam hal-hal yang tidak berguna.



Kali ini saya mengambil tema Bleach, sebuah serial manga (baca: komik) yang lagi populer di negeri asalnya, Jepang dan negeri kita tercinta, Indonesia. Agar tidak menimbulkan fitnah dan kehebohan di dunia infotainmen, alih-alih menggunakan foto artis, saya menggunakan foto sendiri sekalian untuk menyalurkan hasrat narsis yang bergejolak (maklum anak muda).

Untuk mendramatisir senyum kemenangan dalam pose congkak saya, salah seorang tokoh dari serial Bleach "ditempelkan" untuk menambah kesan "aku memiliki semuanya, kekuatan dan wanita". Kenapa tidak harta-tahta-wanita? Karena di dunia komik harta dan tahta tidak pernah ditonjolkan, yang penting jadi terkuat dan mampu mengalahkan lawan dalam medan pertempuran.

Topeng setengah tengkorak yang dimaksudkan untuk menambah kesan sangar dan sadis (bukan untuk meniru Bang Napi) ternyata tidak sesuai harapan karena kontras dengan wajah "tokoh utama" yang "kurang seperti kriminal". Logo "bleach" ditambahkan agar orang awam menjadi "ngeh" dengan tema yang ditonjolkan.

Nih, gambar masternya.



Mau liat karya gagalku yang lain?, ni aku upload juga gambar yang menjijikan di bawah ini. Intepretasikan sendiri ya. Yang jelas, saya tidak bermaksud menjatuhkan nama baik seseorangpun.



Nih gambar masternya, sayang gambar Agnesnya sudah ilang ga tau ada di mana.



Jika disebar di internet pun, tidak akan ada yang percaya. Yap, ketidakasliannya begitu kentara, tidak perlu repot-repot menghubungi Roy Suryo untuk melihat kejanggalan perbedaan warna kulit (kalo ada yang tau caranya, tolong saya diajari ya). Maklum otodidak, namanya juga baru belajar (ide muncul setelah ada bahan, bukan ide duluan baru bahan). Saya tidak tahu ini termasuk melanggar hukum atau tidak, semoga Agnes Monica tidak perlu repot-repot menuntut.

Kamis, 01 November 2007

Autostereogram



Penasaran dengan gambar di atas?

Sedikit informasi dan cara lihat gambar tersembunyi di dalamnya klik di sini

Gambar-gambar sejenis dapat dengan mudah dicari dengan google dengan kata kunci stereogram atau stereograf atau stereograph.

Coba yang satu ini (dari wikipedia)


Atau yang ini (dari halaman wikipedia yang sama), jika dilihat dengan teknik yang sama, akan terlihat lebih "tiga dimensi"


Pertama kali lihat gambar sejenis bertahun-tahun yang lalu, pada sebuah kalender. Dengan berbekal keterangan singkat mengenai cara melihat di setiap bawah-kiri gambar, saya mencoba melihat gambar tiga dimensi yang tersembunyi dan akhirnya berhasil. Cukup mudah kok.

Minggu, 21 Oktober 2007

Calo Resmi

Lagi semangat cerita tentang calo nih. Kali ini pengalaman pertamaku pulang ke Pemalang dari terminal Pulogadung Jakarta. Setelah stres merasakan macetnya lalu lintas kota Jakarta di dalam sebuah bus kota, datanglah beberapa orang calo menyambut diriku turun menjejakkan kaki kali pertama di pelataran terminal Pulogadung.

Setelah sebelumnya mendengar banyak cerita kejamnya kota Jakarta, saya sudah memikirkan beberapa cara untuk menghindari calo jahat yang mungkin akan dihadapi.

Singkat cerita, dua orang calo berhasil menggandeng tanganku. Lolos tanpa perlawanan fisik adalah tidak mungkin karena mereka terlihat begitu menyeramkan. Seragam baju biru dan tanda pengenal tidak dapat menyembunyikan niat jahat mereka. Harga tiket minimal dua kali lipat sudah terbayang, sebuah harga yang mahal untuk seorang mahasiswa baru yang belum berpenghasilan.

Api dibalas dengan api, penipuan dibalas dengan muslihat, secara spontan saya menyebut kota Cirebon ketika ditanya tujuan saya.

Agak tenang setelah diantar ke loket tiket, saya terkejut karena petugas loket juga sekomplotan dengan mereka, menetapkan harga tiket dua kali lipat harga wajar, sesuai perkiraan. Dengan tiket Cirebon harga ganda, saya hanya membayar satu setengah kali harga tiket Pemalang. Kerugian berhasil dikurangi.

Jakarta memang lebih kejam daripada Solo.

Kejamnya Kota Solo

Untuk kesekian kalinya saya bertemu calo. Waktu itu saya berada di terminal Tirtonadi kota Solo hendak mencari bus yang lewat Pemalang, tempat tinggal saya. Begitu turun dari sebuah angkutan kota, seorang paruh baya menanyakan tujuan saya. Terpengaruh asumsi awal bahwa orang Solo itu ramah dan baik hati, singkat cerita saya termakan rayuan sang calo dan mendapatkan tiket yang lebih mahal dengan selisih tidak wajar dari harga tiket sebenarnya. Itupun setelah saya protes dengan nada keras padahal saya belum pernah membentak orang yang lebih tua apalagi di tempat umum.

Begitulah pengalaman pertama kali di terminal Solo, sial bertemu dengan kaum minoritas (mayoritasnya ramah dan baik hati).

Modus operandinya, calo mengatakan bahwa tiket sudah terjual habis dan bus segera berangkat sehingga korban menjadi terburu-buru dan tidak teliti. Untuk lebih meyakinkan, mereka memiliki seragam dan tanda pengenal.

Jika bertemu calo, mendingan menolak dengan seperlunya dan bila ada yang perlu ditanyakan bertanyalah pada petugas/pedagang yang tidak menyesatkan. Dan jangan lupa, belilah tiket pada loket resmi.

Konten Lainnya