Sebagai orang yang visual, ketertarikanku lebih ke sesuatu yang "dapat dilihat", misalnya mending baca komik ketimbang novel yang terlalu banyak ketikan, langsung membuka halaman karikatur ketika ada koran nganggur kalopun baca screening dulu judul-judulnya, nyari ilustrasi dulu sebelum membaca penjelasan buku manual yang berbelit-belit, dan tentu saja lebih suka menonton film daripada mendengar radio.
Nah, ngomong-ngomong soal nonton film, agar dapat meresapi setiap adegan film yang disuguhkan, tentunya suasana harus mendukung. Gambar jernih, suara terdengar jelas, teks terjemahan lengkap (mengingat keterbatasan nilai TOEFL), dan tidak disela dengan pembicaraan orang lain yang tidak berkaitan adalah beberapa hal yang harus dipenuhi.
Nyatanya tidak, sebagai seorang mahasiswa aliran akuntansi, diriku sudah akrab dengan istilah cost and benefit. Yap, artinya kurang lebih apa yang didapat harus sesuai dengan pengorbanan yang dikeluarkan. Dalam hal tonton-menonton, ada tiga alternatif yaitu: nonton di bioskop, beli DVD asli dengan player bermutu dan TV HD, serta membeli bajakan dengan player murahan dan TV rebutan dengan penghuni kos lainnya. Berdasarkan analisa sederhana di bawah ini, pilihan terakhir tersebutlah yang paling sesuai dengan prinsip "biaya ditandingkan dengan keuntungan" tersebut.
Alt. -- Biaya -- Kepuasan
I -- xxxxxxx -- xxxxxxxxxx
II -- xxxxxxxxxx -- xxxxxxxx
III -- xx -- xxxx
Alt. -- Rasio Biaya : Kepuasan
I -- 7/10
II -- 10/8 (termahal)
III -- 1/2 (termurah)
Setelah mengalami manis pahitnya asam garam dunia perfilman, tentunya (ya, perulangan diksi) ada judul-judul film yang memberikan kesan tertentu dihati. Setelah melalui proses penjurian yang ketat, akhirnya muncullah judul-judul film yang mempunyai keunggulan tertentu. Dalam hal penghargaan, bolehlah aku buat versi sendiri, kurang-lebihnya mohon maaf yah.
Ekspresi Terbaik
Bintang film berakting itu biasa, ribuan ekspresipun bisa diaplikasikan sesuai skenario. Bagaimana dengan film animasi? Bisakah mereka (para bintang film jadi-jadian) berekspresi sesuai keinginan sutradara? Ternyata ada yang bisa....! Yap, penghargaan ini diperebutkan secara ketat oleh dua judul film yang dibuat di dua belahan bumi berbeda.


Dibandingkan Shrek, Final Fantasy VII - Advent Childrens memiliki tingkat detil yang sangat tinggi. Adegan pertarungan antara Cloud dan Sephirot di tengah kota mampu melegakan dahaga para pecinta khayalan tingkat tinggi (refer to me). Detail tembok-tembok yang hancur dan terbelah begitu realistis (aka mirip aslinya). Selain itu, desain latar belakang begitu kreatif, motor yang aneh, pedang yang bisa terpisah-pisah menjadi beberapa bagian, kostum keren, dan suasana kota yang tidak sama dengan kota apapun di bumi ini.
Penyakit kebanyakan film kelahiran Negeri Matahari Terbit, sebagus apapun grafisnya, cerita tetap nomor dua. Plot ceritanya merupakan sekuel dari game Final Fantasy VII. Karena dibuat berdasar game, tentunya (tuh kan, kata favorit muncul lagi) cerita yang difilmkan tidaklah lengkap karena hanya merupakan pengembangan plot dari sebuah game. Secara tidak langsung, peringatan "main gamenya dulu, baru nonton filmnya" tertempel di bungkus DVD-nya. Sebagai penikmat mi instan, nonton film pun harus instan, wawancara dengan temenku yang agak-agak otaku berhasil sedikit membuka pikiran untuk menerima alur cerita yang berlubang-lubang.
Overall, dengan segala hormat aku menganugerahkan film dengan ekspresi terbaik kepada.... deng...deng...deng...
Final Fantasy VII - Advent Childrens.
Desain Terbaik


Adegan tranformasi yang dulunya sangat sederhana dan dapat dinalar, sekarang terlihat begitu rumit dan detil, dari mobil mengkilap menjadi robot raksasa yang keren dan "berotot". Kasian Bandai, susah bikin versi mainannya.

Ide Terbaik
Menurut versiku, ide terbaik disandang sebuah film yang berusaha meyakinkan bahwa kehidupan manusia yang dilakukan sehari-hari (makan, tidur, ngetik, ke kantor, jalan-jalan, dsb.) hanyalah mimpi belaka. Kenyataannya ras manusia dikloning secara massal oleh alien yang berbentuk robot dan ditempatkan dalam telur-telur buaian. Setiap telur memilik banyak selang-selang yang terhubung dengan menusia di dalamnya yang meng-online-kan semua manusia kloningan dengan server mimpi. Server mimpi tersebut memberikan kehidupan virtual (sebut saja dunia Matrix, sama seperti judul filmnya) kepada semua manusia. Dengan demikian, kehidupan yang dijalani dari lahir sampai meninggal dunia sebenernya hanyalah didalam telur-telur buatan alien. Dengan bermimpi, ternyata manusia mengeluarkan energi (bener gak sih?) yang digunakan bangsa alien untuk menghidupi dirinya. Selain itu. selang-selang tersebut juga berfungsi untuk mengalirkan makanan dan oksigen, serta membuang kotoran.
Dalam dunia Matrix tersebut ada juga antivirus yang bertugas untuk menjaga stabilitas sistem agar berjalan baik, termasuk untuk membasmi pengganggu-pengganggu seperti Morpheus dan kawan-kawan. Mereka adalah manusia-manusia yang memiliki kemampuan lebih yaitu dapat melawan mimpi fana yang diskenariokan oleh bangsa alien tersebut dan "bangun" untuk memperoleh kehidupan yang sejati. Mereka berjuang dengan memasuki sistem dan berusaha mencari manusia-manusia lain yang mau "dibangunkan" juga.
Merasa terancam dengan gerilya para manusia, alien memburu mereka sampai ke basis pertahanan terakhir, kota Zion yang terletak tersembunyi di dalam tanah.
Sayang, endingnya kurang mantep, cuma gencatan senjata saja. Bangsa mesin akan berhenti menyerang Zion jika Neo, sang "Superman", mau membantu menghancurkan Mr. Smith, firewall yang berubah jadi virus ganas dan mengacaukan sistem.
Penasaran? Nonton aja sendiri, disarankan nonton satu atau dua kali agar dapat memahami alur ceritanya.
Cerita Terbaik

Ceritanya disadur dari komik sepuluh volume bertajuk sama yang dibuat oleh aku-gak-tau-siapa,-lupa dari Korea. Dari sepuluh volume tersebut dikompres menjadi film berdurasi dua jam menghasilkan perpaduan adegan-adegan yang menarik, kreatif, dan antisinetron dengan efek samping komik jelek tersebut menjadi lebih pede muncul di Gramedia. Sori kalo penjelasannya ngambang; seperti paragraf sebelumnya, tonton aja sendiri.
Ketegangan terbaik

Konversi Terbaik

Lain halnya dengan Harry Potter, sutradaranya berhasil menemukan cara mengaudio-videokan halaman-halaman novel yang tebal tanpa mengurangi mutu (ya deh, mutunya turun, tapi dikit kan). Tepukan tangan lebih meriah diberikan kepada Harry Potter and Order of The Phoenix, alur ceritanya lebih smooth dibandingkan dengan kakak-kakaknya yang lahir duluan.
Contoh kegagalan konversi novel-film terjadi pada Da Vinci Code yang menghasilkan film yang ga jelas dan terkesan ada-yang-hilang karena memang banyak detil penting yang dikebiri.